Distan: Gunung Kidul Surplus Padi 34.352 Ton

GUNUNG KIDUL — Di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami surplus padi sebanyak 34.352 ton gabah kering giling pada pada 2020 karena produktivitas panen mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan panen padi untuk tahun ini lebih baik dibandingkan dengan panen di 2019 sehingga ada surplus sekitar 34.352 ton.

“Berdasarkan data yang ada di 2019 lalu, panen padi yang dihasilkan sebesar 257.419 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan signifikan di tahun ini karena panen mencapai 291.771 ton,” kata Bambang Wisnu.

Ia mengatakan ada beberapa faktor yang membuat Gunung Kidul mengalami surplus padi. Salah satunya dikarenakan serangan hama yang bisa dikendalikan, serta kondisi cuaca yang lebih baik. Kondisi tersebut bisa terlihat dari area cakupan luasan panen. Di 2019, luasan panen hanya mencapai 52.367 hektare. Jumlah itu mengalami peningkatan di tahun ini yang mencapai 54.949 hektare.

“Luasan panen ini sudah mencakup untuk padi lahan kering maupun di area persawahan,” katanya.

Bambang mengatakan potensi surplus panen padi sudah terlihat masa tanam pertama dengan jumlah mencapai 239.108 ton. Capaian itu lebih baik dibandingkan dengan panen pertama di 2019 yang jumlahnya hanya seberat 222.735 ton. Untuk panen kedua dan ketiga juga lebih baik sehingga secara akumulasi berdampak terhadap panen yang dihasilkan secara menyeluruh.

Untuk memaksimalkan hasil produktivitas pertanian, selain memberikan bantuan alat-alat pertanian, dinas juga memberikan bantuan benih seperti benih padi inbrida 100 ton dan benih padi gogo seberat 150 ton.

“Kami juga berikan bantuan benih jagung kepada para petani. Kami berupaya meningkatan produksi di sektor pertanian di Gunung Kidul,” katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Raharjo Yuwono mengatakan pihaknya akan terus melakukan pendampingan untuk mengurangi risiko kegagalan panen. Salah satunya dengan pelakukan penyuluhan kepada petani tentang pengendalian hama tanaman.

“Pengendalian ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kegagalan panen,” katanya.

Menurut dia, untuk lokasi lahan, di Gunung Kidul tidak hanya didominasi oleh padi lahan kering yang mengandalkan sistem tadah hujan. Namun demikikan, juga ada padi lahan basah yang tersebar di sejumlah Kapanewon seperti Karangmojo, Ponjong, Patuk dan Semin.

“Padi lahan basah ini ada yang panen setahun sebanyak tiga kali,” katanya. [Ant]

Lihat juga...