Distribusi untuk Pengungsi Merapi Diprioritaskan Pangan dan Selimut

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Seiring penambahan jumlah pengungsi akibat naiknya status Gunung Merapi, terutama dari warga yang selama ini tinggal di sekitar desa atau dusun terdekat dengan puncak Merapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mulai melakukan pendistribusian logistik ke titik-titik pengungsian.

“Data per Senin (9/11/2020), ada sebanyak 961 pengungsi. Mereka terdiri dari, 175 orang di Kabupaten Klaten dan sisanya ada di Kabupaten Magelang. Lalu ada juga tambahan pengungsi dari Desa Tlogomulyo di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Untuk itu, kita mulai salurkan logistik di tiga wilayah tersebut,” papar Plt Kepala BPBD Jateng, Safrudin, saat dihubungi di Semarang, Selasa (10/11/2020).

Dipaparkan, pasokan logistik yang dikirim diprioritaskan kebutuhan dasar, dan juga kecukupan pangan selama di tempat pengungsian. “Tahap pertama pengiriman logistik berupa beras, makanan ringan, selimut dan tikar. Total beras yang sudah dikirimkan sebanyak 1,5 ton untuk tiga kabupaten, dan nantinya akan kembali ditambah mengikuti perkembangan dari Merapi,” terangnya.

Proses pendistribusian logistik tersebut sudah dilakukan sejak Minggu (8/11/2020) lalu. Dimulai dari pengungsian di Kabupaten Magelang, kemudian, berturut-turut pengiriman ke Klaten dan Boyolali.

Di satu sisi, pihaknya tidak menampik jika para pengungsi tersebut banyak yang masuk kategori kelompok rentan covid-19, seperti lansia, ibu hamil, balita dan anak-anak serta difabel.

“Sudah kita sampaikan untuk tempat pengungsian tetap menerapkan protokol kesehatan. Ada sekat-sekat, menggunakan triplek setinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 2 meter persegi. Masing-masing sekat, hanya bisa digunakan oleh pengungsi yang terdiri dari satu keluarga. Ini menjadi upaya dalam pencegahan penyebaran covid-19,” tambahnya.

Sementara, Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rahma Hayati saat dihubungi, menegaskan agar logistik yang dikirimkan untuk para pengungsi Merapi, harus memenuhi kecukupan gizi.

Harapannya, dengan asupan gizi yang cukup, imunitas para pengungsi juga terjaga, sehingga tidak mudah sakit. Termasuk tidak terpapar virus covid-19.

“Selama ini, kita melihat kalau pengungsian itu logistiknya lebih banyak mie instan. Dari segi gizi tentu masih kurang, apalagi untuk diberikan kepada para pengungsi. Asupan gizinya relatif rendah, sementara para pengungsi ini, membutuhkan asupan gizi tinggi untuk menjaga kondisi tubuh mereka agar tidak mudah sakit. Apalagi saat ini masih terjadi pandemi covid-19,” tegas Rahma.

Terpisah, Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi, menyatakan kesiapan anggota Polri mengamankan kampung atau rumah warga yang ditinggal mengungsi dari tindak pidana pencurian.

“Jadi TNI, Polri, bersama tim terpadu dengan BNPB, akan memantau daerah-daerah yang ditinggalkan masyarakat. Nanti juga ada perwakilan warga, yang kami tunjuk untuk bersama-sama kami ikut menjaga keamanan di sana,” paparnya.

Dengan demikian, patroli keamanan tim gabungan TNI, Polri, dan BNPB, akan lebih berjalan efektif mengingat yang mengetahui detail kondisi rumah adalah warga sendiri.

Tak hanya dari sisi keamanan, tim terpadu TNI, Polri, dan BNPB, juga telah memetakan tempat-tempat pengungsian alternatif, jika ada eskalasi besar pengungsian ketika erupsi terjadi. Tenda-tenda pengungsian berukuran besar , juga sudah disiapkan.

“Dengan segala kesiapan itu, masyarakat yang berada di Kawasan Rawan Bencana III erupsi Merapi tak perlu khawatir dengan rumah yan dgitinggalkan, maupun soal tempat pengungsian,” pungkasnya.

Lihat juga...