Festival Diwali Selesai, Warga India Hirup Udara Beracun

Pengunjung menyaksikan atraksi kembang api saat Festival Dev Diwali di Ahmedabad, India, Sabtu (24/11/2020) – Foto Ant

CHENNAI – Ratusan juta warga di wilayah India bagian utara, harus menghirup udara beracun pada Minggu (15/11/2020), atau sehari setelah perayaan Diwali, sebuah acara festival cahaya dalam ajaran Hindu.

Di Kota New Delhi, asap pekat melingkupi udara, dengan tingkat polusi rata-rata di area ini mencapai sembilan kali lipat dari ambang aman menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebelumnya, Kepala Menteri di wilayah Ibu Kota Delhi, Arvind Kejriwal,, telah melarang penjualan dan penggunaan petasan menjelang hari raya tersebut. Namun kebijakan tersebut sulit diberlakukan. Masyarakat di ibu kota tetap membakar petasan dalam jumlah besar, demi merayakan festival secara meriah, sejak Sabtu (14/11/2020) hingga Minggu (15/11/2020) dini hari.

Polusi udara di New Delhi biasanya memburuk pada Oktober dan November, karena di dua bulan tersebut merupakan masa pembakaran limbah pertanian. Pencemaran masih ditambah dengan asap buangan pembangkit listrik tenaga batu bara, gas buang kendaraan, serta kurangnya angin.

Belum lagi, wabah COVID-19 yang terus terjadi, dengan lebih dari 400.000 kasus terkonfirmasi di New Delhi saja, juga menambah risiko kesehatan yang disebabkan oleh asap polusi. Dokter sudah memperingatkan, mengenai peningkatan tajam kasus gangguan pernapasan.

Menurut data pemerintah, kota-kota di sejumlah negara bagian di India, termasuk Punjab, Uttar Pradesh, Haryana, Bihar, serta New Delhi, mempunyai tingkat polusi udara yang lebih parah, setelah perayaan Diwali tahun ini. Hal tersebut didapatkan bila dibandingkan dengan kondisi di tahun lalu. Indeks kualitas udara rata-ratam yang diukur di lokasi berbeda di kota-kota utama. Beberapa negara bagian juga menunjukkan peningkatan, lebih tinggi dari pada tahun lalu. Hal tersebut berdasarkan data Central Pollution Control Board.

Sejumlah tokoh Hindu, melalui cuitan di media sosial, mencela aktivis dan pesohor, yang mempromosikan larangan penggunaan petasan dengan menyebut hal itu sebagai serangan terhadap kebebasan mereka dalam beragama. “Apakah kalian menyadari bagaimana seluruh India, semuanya berdiri menentang pelarangan petasan? Hal ini layaknya wujud seruan perang bagi kebebasan Hindu,” tulis Tarun Vijay, pemimpin senior di Partai Bharatiya Janata, yang menaungi Perdana Menteri Narendra Modi. (Ant)

Lihat juga...