Festival Seni Bali Jani Perkuat Seni Budaya

DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan Festival Seni Bali Jani menjadi salah satu wadah yang disiapkan pemprov setempat untuk memperkuat dan memajukan seni budaya di Pulau Dewata.

“Seni tradisi dan juga seni modern sama-sama memiliki gengsi dan mendapat kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam peradaban dunia, apalagi Bali dikenal hingga kancah internasional karena budayanya yang kuat dan adiluhung,” kata Koster, saat menutup Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Sabtu (7/11) malam.

Menurut Koster, dengan penguatan itu, maka seni budaya Bali akan terus berkembang berkelanjutan dan menjadi keunggulan Bali di tingkat nasional maupun internasional.

FSBJ yang digagas Putri Suastini Koster tahun lalu, lanjut dia, sekaligus merupakan wadah bagi seniman modern untuk menuangkan apresiasi dan inovasinya yang kreatif dalam berkarya memajukan kesenian, sekaligus melestarikan budaya Bali.

“Untuk menyinergikan dan mengkolaborasikan antara seni tradisi dan seni modern, masing-masing diwadahi ke dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) dan Festival Seni Bali Jani (FSBJ). Hal ini pun telah diperkuat keberadaannya ke dalam payung hukum yang tertuang ke dalam Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali,” ucap mantan anggota DPR tiga periode itu.

Gubernur Bali juga berharap di tengah globalisasi yang makin kuat, budaya sebagai keunggulan Bali tidak akan pernah habis, dan seluruh komponen yang menggeluti seni makin menunjukkan kualitas karyanya, terutama generasi muda mau bangkit dan bergeliat membangun ekosistem dalam berkesenian, baik dalam jenis tradisional atau pun modern.

“Jangan pernah bosan dalam membangun seni dan budaya di Provinsi Bali, sehingga mampu membangun eksistensi dan daya saing yang menjadi sumber kehidupan di masa yang akan datang. Dengan lahir dan munculnya karya inovatif dan kreatif, saya yakni juga akan muncul individu-individu yang memiliki gagasan kaya dengan ide-ide baru,” ujarnya.

Karena itu, Gubernur Bali mengajak agar menggunakan panggung tersebut dengan maksimal untuk mengkolaborasikan kesenian secara kolektif dan berkelompok, sehingga mutu dan kualitas yang tampil juga mampu berdaya saing di tingkat yang lebih tinggi.

Koster menambahkan, salah satu ciri peradaban bangsa yang maju adalah banyaknya penulis buku yang berkualitas yang lahir di daerah tertentu, sehingga pihaknya meminta agar pada pelaksanaan Festival Seni Bali Jani yang ke tiga pada 2021, diisi dengan pameran buku bertaraf internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, menambahkan Festival Seni Bali Jani II dilaksanakan dalam rangka pemajuan seni modern, kontemporer dan karya-karya bersifat inovatif dengan mengusung tema “Candika Jiwa Puitika Atma Kerthi”.

“Tema ini bermakna semesta kreativitas terkini dalam mencandikan jiwa spirit, taksu atau ide-ide cemerlang dalam platform konsep eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual dan kolaborasi,” ujarnya.

Selama delapan hari pelaksanaan, Festival Seni Bali Jani II menjadi momentum penting lahirnya seni virtual secara masif dengan dukungan 295 peserta dari delapan jenis lomba, terlibat 1.000 seniman dalam 45 komunitas pagelaran dan menyertakan 45 perupa dan 1 komunitas mural di dalam pameran Megarupa.

Sekaligus terdapat juga 17 penerbit buku pada beranda pustaka, dengan 341 persentasi judul baik fiksi atau non fiksi, dan tidak ketinggalan juga ditetapkannya 10 tokoh dari lintas daerah yang berdedikasi sebagai penerima Bali Jani Nugraha 2020 yang diapresiasi dan diakui prestasi dan dedikasinya.

Pada penutupan Festival Seni Bali Jani II tahun 2020, juga tampil Putri Koster berkolaborasi dengan Balawan yang membawakan puisi berjudul “Agustus”, di samping tampil juga Adilango (pertunjukan) bertajuk “Alun Bali Bangkit” yang dibawakan oleh Sanggar Rare Sejati berkolaborasi dengan sejumlah seniman Bali. (Ant)

Lihat juga...