Gandeng Universitas, Manajemen Prakerja ingin Ekosistem Pelatihan Semakin Baik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menggandeng sejumlah universitas untuk menciptakan ekosistem pelatihan Prakerja yang lebih baik, dalam rangka meningkatkan kompetensi para peserta sesuai kebutuhan lapangan kerja.

“Kerjasama ini merujuk pada Pasal 32 ayat 4 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian nomor 11 tahun 2020 yang mengatur pelibatan ahli dalam asesmen pelatihan,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan dan UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rudy Salahuddin, dalam Diskusi Panel secara daring bertajuk Peran Program Kartu Prakerja dalam Pembangunan SDM di Masa Pandemi, Selasa (3/11/2020).

Adapun universitas yang dilibatkan antara lain, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Katolik Atmajaya, serta organisasi Indonesia Mengajar.

“Lembaga tersebut nantinya akan melakukan pemantauan terhadap penyelenggaraan pelatihan dalam ekosistem Prakerja. Sekali lagi, pemantauan ini bertujuan untuk menjaga standar mutu pelatihan yang diselenggarakan bagi Penerima Kartu Prakerja. Dan yang penting juga melakukan asesmen terhadap pelatihan yang diusulkan oleh Lembaga Pelatihan. Asesmen ini adalah bagian dari syarat diterimanya suatu pelatihan ke dalam ekosistem Prakerja,” jelas Rudy.

Rudy menegaskan, bahwa Kartu Prakerja pada hakikatnya disiapkan untuk mengurangi gap antara kompetensi SDM dan kebutuhan dunia kerja. Untuk itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang optimal dan berkelanjutan.

“Melalui Program Kartu Prakerja, kompetensi para pencari kerja baru, pencari kerja yang alih profesi, atau korban PHK diharapkan bisa ditingkatkan di masa pandemi Covid-19 ini. Tentunya untuk bisa membawa dampak jangka menengah dan panjang,” tandas Rudy.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu, Prakerja, Denni Puspa Purbasari, menambahkan, bahwa BPS telah mencatat 73 persen penganggur tidak pernah mengikuti pelatihan bersertifikat. Lewat Program Kartu Prakerja, sebanyak 5,6 juta peserta belajar materi pelatihan yang telah dinilai oleh ahli dan memperoleh sertifikat.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari, juga menjadi narasumber dalam Diskusi Panel secara daring bertajuk Peran Program Kartu Prakerja dalam Pembangunan SDM di Masa Pandemi, Selasa (3/11/2020). Foto: Amar Faizal Haidar

”Selain itu, mereka juga memiliki literasi digital yang dampak transformatifnya jauh lebih besar karena mereka sekarang sudah tahu dan bisa belajar kapan pun, dimana pun, dari siapa pun selama ada internet dan kemauan,” lanjut Denni.

Pelatihan dalam Program Kartu Prakerja yang diberikan di masa pandemi, kata Denni, tidak hanya memberikan insentif untuk menunjang kebutuhan, namun yang lebih penting memberikan aneka pelatihan yang dibutuhkan pencari kerja ketika menunggu pasar tenaga kerja berangsur pulih dari pandemi.

“Nah ini yang sebetulnya mulai disalah pahami. Padahal kita berharap peserta betul-betul bisa mengoptimalkan pelatihan, bukan sekedar kejar insentif. Data kami menunjukkan, mayoritas peserta baru membeli dan menyelesaikan satu jenis pelatihan. Kita berharap, ke depan bisa lebih dimanfaatkan,” pungkas Denni.

Lihat juga...