Gangguan Komunikasi karena Stroke Bisa Disembuhkan

Editor: Koko Triarko

Dokter Saraf RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dr. Pukovisa P, Sp.S(K) saat talkshow online terkait gangguan komunikasi, Jumat (20/11/2020). –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Kesulitan berbicara adalah suatu hal lumrah terjadi saat seseorang terserang stroke. Tapi, keluarga tidak boleh patah semangat atau kecewa, karena kendala ini bukanlah vonis final bagi pasien. Dengan menggunakan obat yang tepat dan terapi yang sesuai, pasien bisa mengalami perbaikan secara signifikan.

Dokter Saraf RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr. Pukovisa P, Sp.S(K), menjelaskan stroke yang diderita seseorang mampu menyebabkan gangguan pada ujaran.

“Gangguan ujaran disebut sebagai afasia atau disartria. Bisa dikatakan secara umum disartria ini adalah kesulitan saat melakukan ujaran karena wajah, mulut, lidah dan rahang yang lemah. Dan, ini bisa disembuhkan dengan melakukan terapi yang tepat berdasarkan hasil diagnosa,” kata Visa dalam talkshow online, Jumat (20/11/2020) malam.

Ia menjelaskan, pasien yang menderita disartria biasanya memiliki masalah dalam memahami pembicaraan atau membaca dan menulis. Dan, tak jarang juga mengalami disfagia atau kesulitan menelan. Hal ini akan bisa disembuhkan dengan terapi wicara.

“Dalam pascaserangan stroke, kita mengenal masa emasnya. Yaitu, di masa enam bulan pertama. Setelah enam bulan, tetap bisa sembuh, hanya memang nilainya ya di bawah emas. Misalnya, perak atau perunggu. Yang penting itu jangan pesimis. Tetap optimis adalah kuncinya,” ucap dokter muda ini sambil tertawa.

Terapis Wicara RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Sukmawati, Amd., S.Pd., menjelaskan sebelum dilakukan tindakan terapi akan dilakukan diagnosa terkait penyebab gangguannya terlebih dahulu.

“Kejadian ini banyak terjadi. Apakah itu motorik maupun sensorik. Ada yang tidak bisa bicara sama sekali, ada yang hanya bisa mengucapkan satu vokal saja. Bahkan, ada juga yang mengalami gangguan pada pengucapan bahasa Indonesia, hanya mampu berbahasa daerahnya saja,” kata Sukma.

Dalam kasus tertentu, ada yang bisa berbicara, tapi bukan merupakan respons terhadap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

“Salah satu contohnya yang paling sering adalah pasien menjadi cadel pascaserangan stroke yang menimpanya,” ucapnya.

Terapi yang biasa diberikan bergantung pada hasil konsultasi dengan dokter saraf fungsi luhur dari pasien tersebut.

“Setelah itu, baru dibuat rujukan kepada neurorestorasi untuk menerima rehabilitasi, fisioterapi dan okupasional terapi. Dengan menggunakan TMS (Transcranial Magnetic Stimulation) untuk mengukur lokasi stimulasinya,” urainya.

Waktunya, lanjut Sukma, adalah dua minggu yang dilanjutkan dengan evaluasi terkait kesulitan maupun perubahan yang terjadi selama dua minggu pertama.

“Hasil inilah yang akan diberikan kepada dokter saraf dari pasien tersebut. Bentuk pelaporannya itu dalam bentuk video. Sehingga baik pasien dan dokter bisa melihat kemajuan dari pasien. Ini dilakukan hingga didapatkan hasil yang diinginkan,” ucapnya.

Pada beberapa kasus, penggunaan terapi yang berkaitan keagamaan atau hal yang disukai pasien itu bisa saja. Bahkan, hal ini bisa memberikan hasil yang bagus.

“Misalnya, menggunakan lagu yang cocok dengan karakter pasien. Atau jika muslim, bisa diterapkan tilawah Quran. Atau jika Kristiani bisa juga menyanyikan lagu pujian. Ini akan mengurangi kebosanan yang mungkin terjadi dalam sesi terapi yang dijalani pasien,” urainya.

Sukma menyebutkan, ada perbedaan antara pasien dewasa dengan pasien anak dalam tindakan terapi wicara. Harus dilakukan pengenalan karakter dari pasien, sehingga pasien bisa menerima terapisnya.

“Kalau anak biasanya tidak suka jika disuruh-suruh. Sehingga yang kita lakukan biasanya adalah dengan melakukan play therapy, bermain bersama yang membantu mereka dalam pemahaman bicara,” paparnya.

Untuk pasien yang mengalami pembicaraan yang tidak berarah, Sukma menyebutkan terapis perlu menjadi alat kontrol.

“Jadi harus dibantu dengan mengingatkan, jika bicaranya sudah tidak terarah. Apakah dengan tepukan di pundak atau di tangan. Atau bisa dengan tulisan. Terapis juga harus berbicara dengan pelan, agar bisa mendorong pasien untuk berbicara dengan pelan dan terarah,” paparnya.

Inti keberhasilan terapi komunikasi pada pasien pascastroke adalah mengetahui titik kebisaan dari pasien dan keluarga atau caregiver pasien juga menerima pelatihan untuk memaksimalkan terapi.

“Sangat penting untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh pasien. Karena titik inilah yang menjadi awal dari tindakan terapi. Dan, titik ini juga menjadi patokan kemajuan terapi. Saya sangat menekankan kepada keluarga, yang perlu diucapkan adalah apa yang bisa dilakukan oleh pasien. Karena ini mempengaruhi mental pasien,” pungkasnya.

Lihat juga...