Gethuk Lindri, Jajanan Olahan Singkong Pengganti Sarapan

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Makanan tradisional yang identik dengan jajaran pasar ini tetap digemari masyarakat. Dulu gethuk lindri merupakan pengganti sarapan masyarakat yang kurang mampu dan kesulitan untuk mendapatkan beras. Setelah puluhan tahun, jajanan ini tetap digemari.

Gethuk lindri merupakan makanan olahan yang terbuat dari singkong atau ketela pohon. Cara membuatnya juga cukup mudah dan sederhana. Pertama singkong dikupas, dicuci lalu dikukus sampai empuk. Setelah itu ditumbuk sampai halus dan diberi gula pasir, parutan kelapa serta vanili bubuk untuk memberikan aroma harum.

Setelah itu adonan dipisahkan menjadi dua atau tiga bagian dan diberi pewarna makanan. Pada umumnya warna gethuk lindri mulai dari merah, coklat, hijau dan putih singkong tanpa pewarna. Setelah warna tercampur merata, adonan kemudian digiling dengan alat pembuat gethuk lindri dan akan keluar adonan berbentuk bulat memanjang seperti mie.

Adonan yang sudah memanjang tersebut kemudian dibentuk menjadi kotak kecil dengan cara ditumpuk-tumpuk. Sebagai toping-nya, digunakan parutan kelapa muda yang diberi garam dan dikukus. Sehingga rasa manis berpadu dengan gurihnya parutan kelapa muda.

Pak Maman, penjual gethuk lindri di Kota Purwokerto, Sabtu (21/11/2020). -Foto: Hermiana E .Effendi

Salah satu penjual gethuk lindri di pusat kuliner Pratista Hasta Kota Purwokerto, Pak Maman mengatakan, ia sudah puluhan tahun berjualan gethuk lindri. Dalam sehari ia membuat gethuk dari 5 kilogram singkong yang dikukus.

“Sudah lama berjualan gethuk lindri dan sejak dulu sampai sekarang, jajanan ini tetap digemari banyak orang, jualan saya selalu habis, bahkan seringkali ada pembeli yang tidak kebagian,” tuturnya, Sabtu (21/11/2020).

Untuk satu potong gethuk lindri yang berukuran 5×5 centimeter, dijual dengan harga Rp 1.500. Harga tersebut sudah lengkap dengan taburan parutan kelapa di atasnya.

“Kalau untuk parutan kelapa biasanya dipilih yang kelapa muda supaya gurih dan dikukus, supaya bertahan lama. Sebab, jika tidak dikukus terlebih dahulu, parutan kelapa hanya bisa bertahan sekitar 3 jam saja,” kata Pak Maman.

Gethuk lindri Pak Maman ini sudah mempunyai banyak pelanggan di sekitar Kota Purwokerto. Ada yang membeli untuk dibawa pulang, ada juga yang dimakan di tempat, karena lokasi jualan Pak Maman dilengkapi dengan kursi memanjang yang bisa untuk duduk serta makan para pelanggannya.

Salah satu pelanggan gethuk lindri, Lina mengatakan, gethuk lindri paling enak disantap saat pagi sebagai pengganti sarapan. Ia biasanya membeli sampai 10 biji gethuk untuk keluarganya dan dipastikan semua habis tidak sampai siang hari.

“Ini jajanan tradisional kegemaran keluarga saya, semuanya suka, jadi kalau beli minimal 10 biji,” tuturnya.

Lihat juga...