Gunung Merapi Mengalami 43 Kali Gempa Guguran

Puncak Gunung Merapi - Foto Ant

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan, Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, mengalami 43 kali gempa guguran. Hal tersebut terjadi selama periode pengamatan, Sabtu (28/11/2020) mulai pukul 00.00-24.00 WIB.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menyebut, selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat, ada 300 kali gempa hybrid atau fase banyak, 45 kali gempa embusan, 27 kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa frekuensi rendah, serta lima kali gempa tektonik.

Berdasarkan pengamatan visual, tampak asap berwarna putih keluar dari Gunung Merapi, dengan intensitas tebal. Asap mengepul dengan ketinggian 600 meter di atas puncak. Pada periode pengamatan itu dilaporkan pula, adanya suara guguran empat kali dari Pos Pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sementara itu, laju deformasi Gunung Merapi dengan wilayah meliputi sejumlah daerah di DIY dan Jawa Tengah itu, diukur menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) Babadan, rata-rata terjadi 11 sentimeter (cm) per-hari.

BPPTKG telah menaikkan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Aktivitas penambangan di alur sungai-sungai yang aliran airnya berhulu di Gunung Merapi dam berada di dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, direkomendasikan untuk dihentikan.

BPPTKG meminta, pelaku wisata tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III, termasuk pendakian ke puncak Gunung Merapi. Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah juga diminta mempersiapkan segala sesuatu, yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat. (Ant)

Lihat juga...