Harga Bibit Kangkung di Bekasi Melejit, Petani Bingung

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Harga bibit kangkung di Kota Bekasi, kembali melambung hingga Rp45 ribu per kilogram. Harga tersebut meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya berkisar Rp17.000. Kondisi itu menjadi keluhan tersendiri bagi petani sayuran di Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Selain susahnya mendapat akses pupuk subsidi, sekarang harga bibit kangkung mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, naiknya jauh dari harga biasanya,” kata Nasution, Petani Sayuran di Kranggan, Jatisampurna, kepada Cendana News, Senin (2/11/2020).

Dia mengaku, harga Rp45 ribu untuk jenis merk jempol. Merk lainnya Rp40.000. Diakui, harga tersebut hampir sama di semua toko alat tani di wilayah Kota Bekasi. Kenaikan harga sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.

Ada pun kebutuhan satu baris tanaman kangkung, ukuran 4 meter x 10, diperlukan bibit sekira tiga kilogram. Sementara harga jual hanya Rp7.000 per gabung, dengan isi 20 ikat dalam satu gabung.

Nasution pertani sayuran di Kranggan, Bekasi, Senin (2/11/2020). –Foto: M Amin

“Naiknya ga tanggung-tanggung, di Jatiasih langsung menjadi Rp35 ribu. Biasanya Rp17 ribu untuk bibit. Sedangkan harga jual kangkung tidak naik, jadi cukup memberatkan,” ujar Bargo, petani sayur Kangkung lainnya di Bekasi, Senin (2/11/2020).

Dikatakan, kenaikan tersebut menjadi keluhan mayoritas petani sayur kangkung yang budi daya secara konvensional. Petani bingung mau mengadu ke mana. Sedang harga sayuran di pasar tetap stabil.

Menurutnya, begitulah nasib petani. Di samping tidak memiliki kepastian soal harga panen dan bibit, banyak risiko lainnya, gagal panen akibat serangan hama.

“Petani di perkotaan tidak ada perhatian maksimal. Padahal, masih banyak di Kota Bekasi yang menggantungkan penghasilan dari bertani sayuran atau pun lainnya,” tukasnya.

Selain harga bibit yang melambung, harga pupuk urea juga cukup tinggi, mencapai Rp8.000 per kilogram, karena akses mendapatkan pupuk subsidi tidak dimiliki petani sayur.

Gandhi, petani lainnya, mengaku bahwa petani jika memproduksi bibit kangkung atau bayam secara pribadi hasil tanamnya tidak maksimal. Hal tersebut berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya dengan menyemai sendiri.

Menurutnya, harga bibit kangkung tidak sebanding dengan harga jual dan biaya perawatan. Berbeda dengan bibit bayam, meski mahal tetapi harga pasar bisa menutupi biaya produksi.

Tanaman sayuran kangkung dan bayam sistem acak di luas satu hektaran. Biayanya bisa mencapai Rp2 juta lebih modal awal. Itu hanya untuk bibit dan pupuk, belum dihitung tenaga dan perawatan.

Kondisi tersebut, sambung Gandhi, selalu terjadi setiap menjelang akhir tahun terkait kenaikan harga bibit, baik kangkung atau pun bayam.

Lihat juga...