Harga Jual Getah Karet di Pasar Lelang Batanghari Berdasarkan Kualitas

Petani karet menyusun getah karet sadapan, untuk dijual di Pasar Lelang Karet. Pasar lelang di Batanghari, Jambi karet tetapkan harga jual getah karet berdasarkan kualitas – Foto Ant

JAMBI – Pasar Lelang Karet, yang ada di Kabupaten Batanghari, menetapkan harga jual getah karet berdasarkan kualitas. Hal tersebut untuk menjaga Pasar Lelang Karet, dapat terus beroperasi.

Harga getah karet di tetapkan berdasarkan kualitas, harga tertinggi ditetapkan untuk getah karet kualitas terbaik, sehingga petani juga akan menjaga kualitas getah karetnya,” kata Ketua Pasar Lelang Karet Desa Penerokan, Kabupaten Batanghari, Bilal, Kamis (5/11/2020).

Sebelum transaksi jual beli, antara petani dan pembeli di Pasar Lelang, dilakukan pemeriksaan terhadap getah karet milik petani. Bagian dalam getah karet di periksa, untuk melihat apakah getah karet tersebut di campur dengan tatalan getah atau murni getah karet sadapan.

Selanjutnya, di pisah antara getah karet kering dan getah karet basah, dimana harga jual getah karet yang sudah kering, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan getah karet basah. “Hal tersebut dilakukan agar harga jual getah karet dapat stabil dan alami kenaikan,” kata Bilal.

Sementara, jika petani menjual getah karet melalui pengepul, harga getah karet tersebut di kendalikan oleh pengepul. Harga jual getah karet kualitas terbaik dihargai sama. Saat ini, harga getah karet di tingkat petani adalah Rp10 ribu per-kilogram.

Harga getah karet tersebut tergolong cukup tinggi. Sebab dalam dua, tiga tahun terakhir, harga getah karet hanya dikisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per-kilogram. Sementara itu, untuk menjaga perekonomian tetap stabil, petani memiliki strategi menyimpan getah karet sadapan sebelum di jual. Petani baru akan menjual getah karet sadapan, saat harga alami kenaikan. Kalau harga anjlok getah kita simpan dulu, saat harga naik baru kita jual, karena semakin kering getah harga jualnya semakin tinggi,” kata Hartono seorang petani karet di daerah itu.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Hartono melakukan pekerjaan sampingan, diantaranya mengambil upah memanen sawit atau upah menebas lahan. (Ant)

Lihat juga...