Hewan Liar Masih Jadi Patokan Warga Lereng Merapi Ketahui Aktivitas Erupsi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Semakin majunya perkembangan perangkat teknologi deteksi dini kerawanan bencana (Early Warning System), ternyata tak membuat warga di sekitar lereng gunung Merapi Sleman Yogyakarta meninggalkan kearifan lokal yang selama ini menjadi pengetahuan sekaligus pegangan mereka.

Hingga saat ini, warga masyarakat di sekitar lereng gunung Merapi, secara turun-temurun masih tetap memegang teguh kepercayaan maupun tradisi mereka untuk mengetahui tanda-tanda kapan Gunung Merapi akan mengalami siklus erupsi, serta kapan saatnya harus menyelamatkan diri ketika bencana itu terjadi.

Salah seorang warga lereng gunung Merapi, Joko Irianto, yang merupakan Komandan SAR unit kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta menyebut, di samping berpedoman pada data berbasis teknologi yang dikeluarkan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, masyarakat lereng gunung Merapi tetap memiliki pedoman kearifan lokal tersendiri.

Salah satunya adalah kebiasaan melihat gejala ataupun tanda-tanda alam untuk mengetahui vase/tingkatan atau proses peningkatan aktivitas vulkanik gunung Merapi yang selama ini dikenal sebagai gunung berapi teraktif di dunia itu.

“Masyarakat disini biasanya melihat peningkatan aktivitas gunung Merapi dari tanda-tanda hewan yang turun dari wilayah puncak,” katanya kepada Cendananews belum lama ini.

Menurut Joko, ada beberapa jenis hewan yang akan turun setiap kali peningkatan aktivitas vulkanik gunung Merapi terjadi. Perbedaan jenis hewan liar yang turun dari puncak gunung Merapi itu akan mendandai tingkatan atau vase aktifitas vuklanik di dalam perut gunung Merapi. Sehingga bisa menjadi patokan bagi warga untuk melakukan proses evakuasi dari daerah yang berpotensi terkena dampak erupsi.

“Hewan yang akan turun pertama kali dari kawasan puncak biasanya adalah kijang atau rusa liar. Karena mereka ini kan hewan yang memiliki kepekaan tinggi terhadap setiap aktivitas gerakan, termasuk gerakan di dalam perut bumi,” katanya.

Setelah rusa atau kijang, hewan yang biasanya akan menyusul turun adalah jenis hewan buas seperti misalnya macan. Hewan buas ini biasanya akan turun dari kawasan hutan puncak gunung Merapi untuk mencari makan. Pasalnya hewan buruan mereka seperti rusa atau kijang semakin sulit ditemui karena telah turun dari kawasan puncak.

“Hewan liar berikutnya yang akan turun dari puncak adalah jenis primata seperti lutung. Termasuk juga hewan-hewan melata yang tinggal di celah-celah batu atau cekungan tanah seperti ular. Jika hewan ini sudah mulai turun, berarti aktifitas gunung Merapi sudah semakin tinggi,” katanya.

Saat aktifitas erupsi gunung Merapi memuncak, binatang yang selanjutnya turun menjauhi kawasan puncak adalah jenis burung atau unggas. Jika ribuan burung berbagai jenis telah terbang kebingunan, maka bisa menjadi tanda-tanda bahwa di kawasan puncak telah terjadi letusan material baik itu batu, abu, maupun awan panas.

“Karena itu lah penting sekali menjaga ekosistem kawasan hutan di sekitar gunung Merapi. Jangan sampai dirusak. Apalagi sampai memburu hewan-hewan liar ini. Kalau sudah tidak ada lagi hewan-hewan ini, masyarakat tentu tidak punya pedoman lagi yang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...