Hingga November, Ditemukan 345 Kasus DBD di Banyumas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Sampai dengan Bulan November ini, ditemukan 345 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 orang meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengatakan, dalam bulan November ini hampir tidak ada peningkatan kasus DBD. Hal tersebut karena masyarakat sudah terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat di tengah pandemi Covid-19.

“Belum ada penambahan yang signifikan untuk DBD, totalnya masih 345 kasus,” katanya, Jumat (12/11/2020).

Lebih lanjut Sadiyanto menjelaskan, biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, memasuki musim hujan, kasus DBD mengalami peningkatan yang cukup siginifikan. Namun, di tengah pandemi Covid-19, kasus DBD justru relatif stagnan.

Pola hidup bersih yang dimaksud Kadinkes adalah, selain terbiasa mencuci tangan, masyarakat juga terbentuk kebiasaan  rutin membersihkan lingkungan sekitarnya.

Meskipun begitu, Sadiyanto meminta agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD pada musim hujan tahun ini. Sebab, awal musim hujan sudah terjadi banjir di wilayah Banyumas bagian timur, dan menggenangi rumah warga hingga beberapa hari.

“Selama ini banjir identik dengan adanya peningkatan DBD, tetapi sejauh ini alhamdulillah belum ada laporan penambahan angka DBD,” tuturnya.

Menurutnya, yang paling efektif untuk memberantas DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan di rumah masing-masing. Kalau fogging tidak mampu membunuh jentik yang ada di dalam air, tiga hari kemudian jentik akan menjadi nyamuk kembali.

Sementara itu, salah satu pegiat PSN di Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara, Kusmiarsih, mengatakan, PSN tetap dijadwalkan, namun petugas hanya akan masuk pada beberapa rumah saja. Sebagai upaya untuk mengontrol kondisi dalam rumah, pengurus RW membagikan laporan harian dalam satu bulan yang wajib diisi warga.

“Laporan yang kita bagikan berisi keterangan berapa banyak tempat penampungan air, terdapat jentik-jentik atau tidak dan itu merupakan laporan harian yang wajib diisi. Selanjutnya laporan yang tertera dalam selembar kertas tersebut, harus dipasang di depan rumah untuk dipantau petugas,” terangnya.

Hal tersebut dilakukan, sebab di tengah pandemi Covid-19, harus meminimalkan interaksi dengan banyak orang. Selain itu, terkadang ada beberapa warga yang tidak menghendaki rumahnya dimasuki orang lain saat pandemi Covid-19 ini.

“Kita tempuh jalan tengah dengan laporan pada satu lembar kertas tersebut, namun dengan catatan warga harus jujur mengisi laporan, jika memang terdapat jentik harus ditulis sesuai dengan kondisi yang ada. Sebab kondisi tersebut penting untuk pemetaan DBD di masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...