Hingga Oktober, 16 Orang di Sikka Meninggal Terserang DBD

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD) yang menyerang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tahun 2020 merupakan kasus tertinggi, dimana hingga 12 Oktober 2020 sudah terdapat 1.768 kasus yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia.

Dokter spesialis penyakit dalam yang juga pemerhati malaria dan DBD, dr. Asep Purnama, SpPD saat ditemui di RS TC Hillers, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (20/11/2020). Foto : Ebed de Rosary

Warga diimbau untuk tetap menjaga kebersihan rumah dan lingkungan mengingat penyakit DBD hampir setiap tahun selalu menyerang dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa, terutama anak-anak.

“Sekarang sudah memasuki musim hujan sehingga kita harus selalu waspada dan mulai melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk,” pesan dr. Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam RS TC Hillers, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di rumah sakit, Jumat (20/11/2020).

Asep menyebutkan, Kejadian Luar Biasa (KLB) dan membludaknya pasien DBD yang dirawat di rumah sakit dan berdampak terhadap kurangnya tempat tidur untuk pasien harus jadi pelajaran.

Untuk itu dirinya meminta agar segenap warga di Rukun Tetangga (RT) hingga desa dan kelurahan agar selalu rutin minimal seminggu sekali membersihkan lingkungan dari sampah terutama sampah plastik.

“Kita harus mulai lakukan langkah-langkah preventif dengan cara memperhatikan kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. Sampah-sampah plastik yang tidak terpakai harus dibuang,” pesannya.

Asep menambahkan, barang-barang bekas yang tidak terpakai sebaiknya dibuang, apalagi kaleng, botol dan gelas bekas air mineral yang bisa membuat air tergenang dan menjadi sarang nyamuk demam berdarah.

“Paling banyak sampah plastik gelas bekas air minum kemasan yang biasanya selalu dibuang sembarangan. Saat terjadi hujan maka gelas-gelas ini akan menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Waioti Fabian Ronald Edward Woen, menyebutkan, selama beberapa minggu terakhir tercatat 3 warga di wilayahnya terserang Demam Berdarah Dengue (DBD.

Menurut Fabian, seorang warga merupakan pelaku perjalanan dari Makasar, seorang lagi berasal dari Kecamatan Bola namun mereka semua berdomisili di wilayahnya, serta seorang warga lainnya yang menetap di RT17.

“Kami sudah membangun koordinasi dengan Puskesmas Beru agar kader jentik memantau di setiap rumah warga serta pembagian abate. Kami juga menggandeng berbagai elemen untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” tuturnya.

Fabian berharap warga harus selalu proaktif dan terlibat secara aktif dalam berbagai gerakan untuk memberantas penyakit demam berdarah termasuk menugaskan seorang anggota keluarga memantau jentik di rumah.

“Warga harus proaktif dan harus menyediakan seorang anggota keluarga yang tinggal di dalam rumah untuk bertugas memantau jentik,” pesannya.

Lihat juga...