Hujan Deras Ancam Semarang, Waspadai Luapan Air Banjir Kanal Barat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Saat musim pancaroba seperti sekarang ini, kesibukan Bayu Wanapati semakin bertambah, jika dibandingkan pada musim kemarau. Setiap hari pria yang berprofesi sebagai penjaga pintu air Bendung Simongan di sungai Banjir Kanal Barat (BKB) tersebut, harus mengecek ketinggian air. Termasuk saat hujan deras terjadi di wilayah Semarang dan sekitarnya.

“Pantauan sangat penting, untuk mempercepat antisipasi jika debit air menyentuh status siaga dan seterusnya. Kita akan menetapkan status ‘siap’ jika debit air di angka 60 centimeter. Kemudian siaga 1 di angka 100 centimeter. Sementara, jika sampai di angka 200 centimeter status naik menjadi ‘awas’, artinya bencana banjir segera datang,” paparnya, saat ditemui di sela bekerja di pintu air Simongan, Semarang, Rabu (11/11/2020).

Dipaparkan, Bendung Simongan menjadi titik vital dalam pengendalian limpasan air saat musim penghujan di Kota Semarang. Terlebih sungai BKB menjadi salah satu sungai utama di Kota Semarang, seluruh sungai di wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Semarang bermuara di BKB, sebelum kemudian mengalir ke laut.

“Bisa jadi di Kota Semarang belum hujan, namun daerah hulu hujan deras, debit air pasti juga naik. Jadi harus terus dipantau. Untuk di Bendung Simongan paling tinggi sejauh ini sekitar 180 centimeter, yang terjadi pada tahun 2019 lalu,” terangnya.

Di satu sisi, dukungan teknologi juga digunakan untuk pemantauan tinggi debit air, yang dilakukan secara real time setiap 10 menit sekali selama 24 jam.

Pihaknya juga sudah meminta agar masyarakat yang tinggal di sepanjang BKB, untuk meningkatkan kewaspadaannya dalam menghadapi musim hujan. Terlebih, berdasarkan informasi BMKG, seiring dengan adanya fenomena La Nina, curah dan intensitas hujan akan semakin tinggi hingga beberapa bulan ke depan.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Rudianto, saat dihubungi menandaskan secara umum, ada tiga wilayah di sepanjang BKB , yang berpotensi rawan bencana banjir.

Kepala BPBD Kota Semarang, Rudianto, saat dihubungi menandaskan secara umum, ada tiga wilayah di sepanjang BKB , yang berpotensi rawan banjir, Semarang, Rabu (11/11/2020). Foto: Arixc Ardana

“Apalagi jika ketinggian debit air mencapai 180 centimeter ke atas, diantaranya wilayah Krobokan, Barusari dan Gedung Batu, karena memang letaknya di daerah cekungan,” terangnya.

Pihaknya pun sudah mensosialisasikan terkait antisipasi banjir bagi warga sekitar BKB atau pun Banjir Kanal Timur (BKT).

“Pihak kecamatan dan perwakilan RT dan RW sudah kita kumpulkan, kita kasih pemahaman agar bersiap menghadapi kemungkinan bencana banjir saat hujan lebat,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga sudah mengimbau warga untuk menyiapkan kantong ‘doraemon’, berupa wadah khusus tahan air yang berisi berbagai barang berharga serta surat-surat penting.

“Semuanya dimasukkan ke wadah tersebut, jadi ketika tiba-tiba bencana datang, entah itu banjir atau tanah longsor, bisa langsung menyelamatakan diri. Kantong ‘dora emonnya’ tinggal diambil, jangan lupakan jumlah anggota keluarga yang lain. Anak, suami, istri , bapak, ibu, kakek nenek. Mudah-mudahan dengan segala upaya antisipasi yang dilakukan, bencana bisa dicegah,” tegas Rudi.

Lihat juga...