Hutan Mangrove di Gunungsitoli Utara Dirusak

Alat berat bekhoe, yang sedang mencabut hutan mangrove di Gunung Sitoli, Sabtu (7/11/2020) – Foto Ant

GUNUNGSITOLI – Hutan mangrove, yang berada di Desa Teluk Belukar, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dirusak. Perusakan dilakukan dengan cara dicabut menggunakan alat berat jenis bekhoe.

Kepala Desa Teluk Belukar, Fatizanolo Mendrofa, membenarkan jika di daerahnya ada perusakan hutan mangrove menggunakan alat berat jenis bekhoe. “Hutan mangrove yang dirusak lokasinya berada tepat disamping jembatan atau di belakang rumah makan milik warga,” ungkapnya, Sabtu (7/11/2020).

Menurutnya, perusakan tersebut sudah dilakukan sebulan yang lalu. “Saya sudah mengingatkan untuk menghentikan aktivitasnya tersebut, karena melanggar aturan. Tetapi, pelaku tidak menggubris dan terus melanjutkan aktivitas merusak tanaman mangrove,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Gunungsitoli, Titin Gulo, mengaku baru mendapat informasi terkait perusakan hutan mangrove di Desa Teluk Belukar. “Informasi ini baru kita dapatkan, dan sudah dilakukan langkah-langkah pertama penanganan. Dan karena kantor sudah tutup, kita koordinasi dan meminta camat sebagai kepala wilayah, untuk mengimbau kepada pelaku untuk menghentikan segala kegiatan itu,” terangnya.

Di bagian lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI menargetkan 5,9 juta orang pekerja di seluruh Indonesia dilibatkan dalam program padat karya penanaman mangrove (PKPM), sebagai bagian pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi COVID-19.

“Jadi kalau dimulai September, persiapan rata-rata pekerjaan mangrove itu 60 hari. Mereka bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, dan mendapat uang Rp80ribu perhari. Dan uangnya itu langsung dari rekening BRI ke rekening masyarakat,” kata Menteri LHK, Siti Nurbaya, usai melakukan kunjungan kerja program PKPM di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, di Serang, Sabtu (7/11/2020).

Ia mengatakan, pemerintah pusat kembali menargetkan penanaman lahan mangrove yang luasannya mencapai 600 ribu hektare (ha) dalam empat tahun ke depan. Namun target penanaman 63 ribu hektare di 2020, hanya mampu terealisasi sekitar 15 ribu hektare.

Dipilihnya penanaman mangrove, sebagai program pemerintah dikarenakan pohon tersebut dapat menyimpan dan menyerap karbon di udara hingga 30 kali lipat lebih baik, dibandingkan pohon-pohon lainnya. “Jadi mangrove ini sebetulnya pohon yang sangat bagus untuk memelihara udara di kita tetap bersih. Mangrove menyimpan dan menyerap karbon di udara itu 30 kali lipat dibanding hutan,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...