IHLC: Indonesia Harus Jadi Produsen Halal Dunia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Wakil Ketua Indonesian Halal Life Center (IHLC), Jetti Rosila Hadi mengatakan, pasar sektor industri halal di Indonesia cukup menjanjikan untuk terus dikembangkan.

Setidaknya ada 10 sektor yang bisa digarap oleh industri halal, di antaranya makanan, keuangan, pariwisata, fashion, media dan rekreasi, seni dan budaya, medical care dan kesehatan, pendidikan serta kecantikan.

Berdasarakan laporan dari Global Islamic Economics Report, lanjutnya, total dana yang dihabiskan pada sektor fesyen muslim menyentuh USD16 miliar. Sementara sektor makanan total USD144 miliar dan perjalanan ke luar negeri mencapai USD112 miliar.

Terkait angka tersebut, dia berharap Indonesia tidak hanya menjadi konsumen produk-produk halal, tetapi menjadi produsen.

“Jadi kita tidak hanya menikmati produk halal import, tapi justru kita mengekspor jadi produsen halal dunia,” ujar Jetti, pada workshop ekonomi syariah untuk jurnalis yang digelar Komite Nasional Ekonomi da Keuangan Syariah (KNEKS) secara virtual di Jakarta, Jumat (27/11/2020).

Menurutnya, produk kosmetik Indonesia, menjadi ketiga terbaik di Malaysia. “Ini peluang kita untuk terus berkembang karena memang pasar gaya hidup halal Indonesia cukup menjanjikan. Indonesia bisa jadi pusat halal dunia,” tukasnya.

Dalam upaya meningkatkan gaya hidup halal sejauh ini menurutnya, IHLC telah melakukan berbagai kerjasama dengan berbagai negara.

Yakni diantaranya, melakukan riset soal halal lifestyle. IHLC juga mengadakan inhalas, dan Indonesia halal bertempat di Jakarta.

Namun demikian menurutnya, kedepan bagaimana Indonesia menjadi produsen produk halal, bukan sekedar menjadi konsumen dalam memajukan industri halal ini.

“Industri halal itu dapat bergerak, jika ada konsumennya, pembelinya atau pemakainnya. Padahal, kriteria ini kita punya potensi besar untuk memajukan industri halal Indonesia, jadi produsen halal kita dan dunia,” tukas Jetti Rosila Hadi yang menjabat anggota tim ahli Dewan Industri Kreatif Syariah Indonesia.

Menurutnya, peran media juga menjadi kunci dalam merealisasikan skema besar gaya hidup halal kepada masyarakat muslim Indonesia.

Terutama, sebut dia, yakni media dapat menyelaraskan pola konsumsi masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. “Contohnya, dengan seluruh daur hidup produksi barang dan jasa dengan kriteria halal dan thayyib,” ujarnya.

Dia berharap ke depan media memiliki peran untuk bagaimana memunculkan kesadaran dengan informasi edukatif pada perempuan muslim Indonesia.

Lihat juga...