INDEF: TFP Sektor Pertanian Turun Sejak 2011

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bustanul Arifin mengatakan, pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) sektor pertanian cenderung lebih rendah dibandingkan TFP ekonomi secara keseluruhan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II-2020 mencapai 16,24 persen, dan triwulan III-2020 tumbuh di angka 2,15 persen.

“Pertumbuhan TFP sektor pertanian kita menurun sejak tahun 2011,” ujar Bustanul, pada diskusi INDEF bertajuk ‘Proyeksi Ekonomi 2021 : Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi, Kedaulatan Pangan dan Energi’ yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Hal ini menurutnya, disebabkan oleh produktivitas pertanian dalam penggunaan teknologinya lamban.

“Inilah masalahnya, teknologi produktivitas pertanian kita lamban. Kalau pun ada inovasi, tapi belum banyak terserap dan teraktualisas mendorong pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, Bustanul berharap peran Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Litbang Pertanian dapat melakukan terobosan pengembangan teknologi.

“Kalau pemerintah mau wujudkan kedaulatan pangan, maka harus ada terobosan pengembangan teknologi modern di sektor pertanian,” tukasnya.

Implementasi teknologi pertanian modern melalui kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementan, tentu menurutnya, harus mengutamakan keberpihakan kepada petani. Dengan meningkatkan fasilitas bantuan alat pertanian secara signifikan.

Diharapkan hal tersebut dapat menggeser kegiatan pertanian sistem tradisional menuju modern.

“Sektor pertanian perlu lebih didorong dengan berbagai bentuk modernisasi teknologi alat-alat pertanian. Sehingga produktivitas pertanian akan lebih meningkat dan diharapkan kehidupan para petani juga lebih sejahtera. Pertanian nasional harus mampu meningkatkan jumlah produksi, sehingga kecukupan pangan tercapai,” pungkasnya.

Lihat juga...