Ini Kunci Nurul Meraih Gelar Doktor Termuda FH Untag Semarang

Editor: Mahadeva

SEMARANG – Ada yang berbeda pada kegiatan wisuda periode II-2020 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, yang digelar di kampus Bendan Duwur Kota Semarang, Sabtu (7/11/2020).

Diantara ratusan wisudawan yang mengikuti upacara kelulusan tersebut, terdapat sosok, Nurul Ummi Rofiah. Wanita kelahiran Pati, 25 Mei 1992 tersebut, tercatat menjadi pemilik gelar doktor termuda, dari Fakultas Hukum (FH) Untag. Dia meraih gelar S3 tersebut di usia 28 tahun.

Gelar doktor ilmu hukum tersebut, kian menambah sederet titel yang disandang Nurul. Sebelumnya, dia berhasil meraih gelar dokter, setelah menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran di Universitas Sultan Agung Semarang. Kemudian mendapat gelar Magister Hukum (MH), setelah menyelesaikan pendidikan S2 ilmu hukum di Untag Semarang. “Saat ini saya juga tengah mengambil kuliah dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Program Dokter Spesialis Forensik dan Medikolegal,” papar Nurul, usai di wisuda.

Nurul mengaku ingin terus mengembangkan ilmu yang dimiliki, termasuk dengan melakukan kuliah secara bersamaan, di dua jurusan berbeda, dengan dua perguruan tinggi yang berbeda. “Jadi selama  menempuh S3 Hukum di Untag, saya juga kuliah dokter spesialis di Undip. Memang membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, karena keduanya harus diselesaikan,” terangnya.

Dukungan keluarga dan kemampuan membagi waktu, menjadi kunci keberhasilan menyelesaikan seluruh pendidikannya. “Kuncinya memang di manajemen waktu, harus pintar membagi waktu. Menyesuaikan jadwal kuliah agar tidak bentrok, memang tidak mudah. Namun dimana ada kemauan dan niat, semua bisa. Saya sudah membuktikannya,” terang Nurul.

Terkait disertasi atau penelitian, untuk meraih gelar S3 Hukum, dirinya mengaku memilih penelitian yang tidak jauh dari ilmu yang dimiliki sebelumnya, yaitu di bidang kesehatan. “Karena basic saya dokter, maka di S3 Hukum Untag saya juga mengambil penelitian tentang hukum kesehatan. Tentang model perlindungan hukum bagi pasien filariasis atau kaki gajah, sekaligus dalam upaya penanggulangan penyakit menular,” terangnya.

Menurut Nurul, ada sejumlah permasalahan terkait penyakit tersebut yang harus dijawab pemerintah. Diantaranya, bagaimana penyakit  filariasis mengalami peningkatan penyebaran, atau bagaimana regulasi perlindungan hukum bagi penderita filariasis saat ini.

Hingga model perlindungan hukum yang berkeadilan, terhadap penderita sebagai upaya penanggulangan penyakit menular. “Perlu dibuat model perlindungan hukum operatif yang berkeadilan, terhadap penderita filariasis dalam upaya penanggulangannya,” tandas Nurul.

Disatu sisi, dengan capaian akademik yang diraihnya, beragam tawaran pekerjaan menghampirinya. Termasuk menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi ternama. “Saat ini sudah ada beberapa pihak yang menawarkan pekerjaan sebagai dosen di beberapa universitas. Namun sejauh ini belum dulu, karena saya masih menyelesaikan satu lagi pendidikan dokter spesialis, sekaligus ingin menghabiskan waktu dulu dengan keluarga, karena sebelumnya fokus di pendidikan,” tegasnya.

Meski demikian, dirinya tidak menampik, jika berharap bisa meraih gelar guru besar, atau profesor dalam beberapa tahun kedepan. “Mudah-mudahan bisa tercapai,” tandasnya berharap.

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Hukum Untag, Prof.Dr. Edy Lisdiyono., S.H., M.Hum. Menurutnya, harapan besar disematkan pada pundak Nurul, untuk bisa mengaplikasikan keilmuan yang didapatkan, untuk kepentingan masyarakat. “Saya juga doakan agar bisa segera meraih gelar guru besar di bidang hukum. Itu bukan hal yang tidak mungkin, mengingat kompetensi yang dimiliki, serta usia yang masih muda,” pungkasnya.

Lihat juga...