Ini Strategi BPBD Jateng Antisipasi Erupsi Gunung Merapi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, terus bekerja sama dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dalam melakukan pemantauan kondisi terkini Gunung Merapi.

Termasuk menyiapkan rencana kontinjensi, dalam upaya menanggulangi dampak erupsi Merapi, termasuk dari sisi tindakan teknis, manajerial, serta pengerahan potensi sumber daya yang ada.

“Kita perkirakan erupsi Gunung Merapi tahun ini, hampir sama dengan kejadian serupa pada tahun 2006 lalu , namun lebih kecil dibanding erupsi pada tahun 2010. Kita juga terus berkoordinasi dengan BPPTKG,” terang Plt Kepala BPBD Jateng, Safrudin, saat dihubungi di Semarang, Rabu (11/11/2020).

Sejauh ini, untuk penanganan erupsi Merapi, pihaknya sudah menyiapkan sebanyak 31 bangunan permanen, di tiga wilayah Jateng yang terdampak yakni di Kabupaten Magelang, Klaten serta Boyolali.

“Jika lokasi pengungsian ini tidak mencukupi, pemerintah daerah setempat juga sudah menyiapkan ratusan desa paseduluran, yang bisa digunakan untuk menampung warga dari sembilan desa yang dimungkinkan terdampak erupsi Merapi,” terangnya.

Ke-9 desa tersebut meliputi desa Ngargomulyo, Krinjing dan Paten di Kabupaten Magelang. Kemudian, Tlogolele, Klakah dan Jrakah di Selo, Boyolali, serta desa Tegal Mulyo, Sidorejo dan Balerante di Kemalang, Kabupaten Klaten.

Ditambahkan, jumlah pengungsi saat ini juga bertambah, menjadi 1.049 orang dari sebelumnya 961 pengungsi. “Kondisi pengungsi terpantau sehat, kebutuhan pangan, selimut, tempat pengungsian juga tercukupi. Para pengungsi juga sudah dengan tertib menuju ke posko pengungsian. Kami utamakan adalah lansia, ibu hamil dan balita serta orang-orang difabel,” tegasnya.

Masyarakat juga dapat mengidentifikasi posisi secara real-time, terhadap potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi. Caranya dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis internet melalui aplikasi google maps.

“Masyarakat dapat mengidentifikasi posisi secara langsung, serta potensi bahaya yang ada di sekitarnya. Melalui kesiapsiagaan sejak dini, masyarakat akan mampu terhindar dari bahaya,” tambahnya.

Cek Posisi memberikan fitur, yang dapat diatur untuk melihat beberapa parameter terkait erupsi Gunung Merapi. Melalui Cek Posisi, pengakses dapat melihat wilayah-wilayah yang berada pada kawasan rawan bencana (KRB) I, KRB II dan KRB III. Pada peta akan terlihat warna yang berbeda pada setiap KRB, misalnya merah tua untuk menjelaskan KRB III, merah muda KRB II dan kuning KRB I.

“Bagi masyarakat, khususnya yang berada di wilayah potensi bencana, juga bisa mengetahui ancaman bencana melalui aplikasi inaRisk, yang bisa diunduh secara gratis di playstore atau apple store. Aplikasi ini akan membantu mengetahui ancaman bencana, sekaligus mengetahui langkah untuk mengantisipasinya,” jelasnya.

Dipaparkan, melalui aplikasi tersebut akan diupdate secara real time, kondisi kebencanaan di sekitar titik wilayah pengguna, mulai dari banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor hingga ancaman covid-19.

Sementara, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta seluruh pihak untuk terus bersiaga terkait status Gunung Merapi yang mengalami peningkatan. Termasuk, kesiapsiagaan menghadapi luncuran wedus gembel atau awan panas.

“Skenario sudah disiapkan, namun yang namanya bencana tetap tidak bisa diprediksi. Bisa saja berubah. Jika kemarin kita perkirakan arahnya ke Klaten, Kendal atau ke Yogyakarta, namun kini saya minta semuanya bersiap. Bisa saja arah berubah karena tiupan angin,” terangnya.

Terlepas dari itu, Ganjar juga memastikan kesiapan TNI, Polri, Tagana, PMI hingga relawan, yang didukung oleh kesadaran warga sekitar Gunung Merapi yang semakin tinggi.

“Masyarakat sekitar Merapi ini sebenarnya sudah paham, karena mereka sudah belajar selama bertahun-tahun soal karakter gunung tersebut. Ini yang harus kita optimalkan, kita perkuat informasi kepada masyarakat agar semuanya bersiap dan siaga,” pungkasnya.

Lihat juga...