Inilah Dinamika Kesehatan Reproduksi di Masa Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kebijakan pembatasan sosial akibat wabah pandemi Covid-19 telah banyak mengubah perilaku hidup masyarakat, khususnya kalangan remaja. Perubahan perilaku tersebut pada gilirannya berdampak pada banyak hal, termasuk yang berkaitan dengan isu Kesehatan Reproduksi.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Aliansi Satu Visi terkait Situasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja pada Masa Pandemi di 10 provinsi di Indonesia ditemukan, bahwa 6,74 persen remaja usia 18-24 tahun telah melakukan hubungan seksual di luar nikah.

Lalu 44 persen di antaranya behubungan seks tanpa menggunakan alat kontrasepsi, 51 persen menggunakan kondom dan 5 persen menggunakan pil KB.

Masih dari survei yang sama, 45 persen remaja Indonesia disebut pernah menonton tayangan pornografi, dan 35 persen di antaranya menyatakan mengalami adiksi pornografi. Kemudian ditemukan pula bahwa penggunaan alat kontrasepsi untuk pasangan usia subur menurun, sekitar 4 persen dibandingkan sebelum pandemi.

Merespon hasil survei itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasionan (Bappenas), Suharso Monoarfa menyebut, isu Kesehatan Reproduksi kini semakin penting dan mendesak. Pasalnya, isu tersebut berkaitan erat dengan cita-cita membangun sumber daya manusia Indonesia yang maju dan berdaya saing.

“Kalau tidak ada intervensi yang masif dan serius, situasi ini berpotensi meningkatkan perilaku berisiko remaja dan kehamilan yang tidak diinginkan, serta menurunnya akses terhadap KB akibat kekhawatiran untuk melakukan kontak fisik dengan tenaga kesehatan selama pandemi,” kata Suharso, dalam Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi, Jumat (27/11/2020) yang dilaksanakan virtual di Jakarta.

Suharso menilai, capaian pembangunan Kesehatan Reproduksi masih menghadapi tantangan yang besar, mengingat rendahnya angka prevalensi penggunaan kontrasepsi modern (Modern Contraceptive Prevalence Rates) sebesar 57,2 persen dan angka kebutuhan Keluarga Berencana yang masih sebesar 10,6 persen pada 2017.

“Kalau kita lihat data, angka kelahiran pada usia remaja (Age Specific Fertility Rate) 15-19 tahun sebetulnya sudah menurun cukup signifikan, menjadi 36 per 1.000 perempuan pada kelompok umur 15-19 tahun. Namun sayangnya, angka kelahiran di usia remaja tercatat semakin muda usia kelahirannya karena terdapat 0,179 kelahiran per 1.000 perempuan usia 10-14 tahun,” terang Suharso.

Pada forum yang sama, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Subandi Sardjoko menambahkan, bahwa pemerintah akan fokus melaksanakan sejumlah langkah promotif dan preventif di antaranya edukasi Kesehatan Reproduksi untuk mencegah perkawinan anak, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang tidak aman, Infeksi Menular Seksual, HIV/AIDS, kekerasan seksual, hingga risiko kematian ibu yang bersumber dari kehamilan yang tidak ideal.

“Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi perlu diberikan sejak usia dini, dengan pendekatan dari berbagai sektor, termasuk pendidikan, sosial, budaya dan agama. Diskusi, knowledge sharing, jejaring kemitraan, dan kajian evidence based untuk penyusunan kebijakan juga menjadi strategi andalan,” tandas Subandi.

Sementara itu, fokus langkah kuratif dan rehabilitatif juga akan dilaksanakan, antara lain peningkatan sarana pelayanan Kesehatan Reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, ketersediaan SDM kesehatan yang berkualitas dan kerja sama antar fasilitas pelayanan kesehatan. Serta kebijakan spesifik dan afirmatif sesuai dengan kebutuhan, baik berdasarkan usia, kondisi sosial ekonomi, maupun variasi antarwilayah.

“Kesehatan Reproduksi memegang peran yang sangat strategis dan merupakan kunci dalam rangka mewujudkan generasi yang unggul dan Indonesia maju. Maka dari itu, semua pihak harus terlibat dalam agenda ini,” pungkas Subandi.

Lihat juga...