Inilah Sisa Kejayaan Budi Daya Ikan Hias di Kampung Pondok Melati

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kota Bekasi, Jawa Barat, dikenal dengan sebutan planet Bekasi, karena aspek kemacetan sebagai kawasan penyangga DKI Jakarta. Meski begitu, kawasan dengan tagline Kota Patriot tersebut masih memiliki beragam budi daya di bidang pertanian dan perikanan yang masih tersisa. Tapi, sayangnya, minim perhatian.

Para pecinta ikan hias di Bekasi dan Jakarta, tentu mengenal Kampung Pondok Melati, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati yang dulu pernah berjaya di masa pemerintah Orde Baru. Tempat tersebut dikenal sebagai kawasan Jalan Raya Hankam Ujung Aspal, adalah pecahan dari Kecamatan Pondok Gede. Dulu dikenal sebagai pusat ikan hias terbaik di Indonesia.

Masa Pemerintahan Presiden Kedua RI, H.M Soeharto, Kampung Pondok Melati, Jati Melati, Kota Bekasi, mendapat perhatian khusus seperti pembangunan irigasi untuk kolam ikan warga. Tak heran saat itu, budi daya ikan hias tertata apik sebagai mata pencaharian utama mayoritas penduduk kampung setempat.

Era Soeharto, budi daya ikan hias di Kampung Pondok Melati, menjadi primadona bahkan sampai di Jakarta, sebagai pusat penghasil ikan hias berkualitas. Semua pengepul dulu berkumpul dan mencari berbagai jenis ikan hias di Kampung Pondok Melati.

Dulu juga ada perhatian khusus misalnya untuk aspek irigasi ada istilah mandor air, yaitu penjaga irigasi yang ada di sekitar perkampungan Pondok Melati.

Ketika masa kepemimpinan Presiden Kedua RI, H.M Soeharto berakhir, ada perubahan. Harga pakan menjadi naik, irigasi yang ada menyempit, dan perhatian terhadap pertanian serta perikanan menurun. Sawah di sekitar Kampung Pondok Melati pun berubah menjadi gedung, apartemen, dan perumahan.

“Sekarang sisa kejayaan Kampung Ikan Hias di Pondok Melati masih tersisa. Tapi, tanpa ada perhatian dari Pemerintah Kota Bekasi. Kami budi daya secara mandiri. Baru-baru ini Wakil Wali Kota mau berkunjung, kami sudah berkumpul, ternyata gagal,” ungkap Nemin (46) warga asli Kampung Pondok Melati kepada Cendana News, Senin (2/11/2020).

Kang Nemin, pembudi daya ikan di Kampung Pondok Melati. Profesi tersebut melanjutkan usaha orang tuanya yang dulu berjaya, ia juga sebagai saksi kejayaan kampung kelahirannya, dulu sebagai sentra ikan hias, Senin (2/11/2020). Foto: Muhammad Amin

Diakuinya, sampai saat ini, khusus warga asli Kampung Pondok Melati, Jatimelati, mayoritas masih menekuni budi daya ikan hias. Mulai dari pembibitan sampai pembesaran. Setiap bulan sudah ada pengepul yang mengambil untuk distribusi di beberapa pasar di wilayah Jatinegara atau lainnya.

Selain budi daya ikan hias, mayoritas warga kampung setempat berprofesi sebagai pencari cacing sutra di beberapa tempat. Misalnya di rawa wilayah Kota Bekasi sebagai profesi tambahan. Hasilnya selain dijual ke pengepul, juga untuk pakan ikan hias. Bahkan ada warga setempat yang khusus ternak cacing sutra.

“Profesi itu sebagai petani budi daya ikan hias rata-rata adalah warga asli, termasuk saya sendiri. Masih budi daya tapi jenis ikan air tawar untuk konsumsi. Kami juga sering mencari cacing sutra,” tandasnya.

Cacing sutra dijual secara literan, satu liter harga Rp15 ribu. Keluar rumah selesai salat Subuh, pulang ke rumah sebelum Zuhur sudah mendapat cacing sutra 20 liter. Dia mengaku, kawasan Pondok Melati sebagai pusat ikan hias Indonesia sirna tak berbekas.

“Bapak saya dulu pernah mendapat penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta karena berhasil mengembangkan budi daya ikan hias di Kampung Pondok Melati,” tukasnya.

Nama Kampung Pondok Melati sebagai sentra ikan hias Indonesia kini seolah hilang ditelan bumi. Lagu Iwan Fals dengan judul Ujung Aspal Pondok Gede, menjelma jadi kenyataan, wajah pribumi yang murung, sawah menjelma jadi apartemen. Dan kolam ikan hias yang tersisa di wilayah itu seakan berada di tengah tembok raksasa.

Abah Kitting, kini berusia lebih dari 80 tahun, menjadi saksi bahwa kawasan Kampung Pondok Melati dulu pernah berjaya dengan budi daya ikan hias. Kolam warga dikelilingi sawah hingga perkembangan ikan hias lebih maju dan modern.

Abah Kitting saksi sejarah kejayaan Kampung Pondok Melati sebagai sentra ikan hias hingga dibangun irigasi bentuk perhatian pemerintah di era Presiden Kedua RI, H.M Soeharto, Senin (2/11/2020) – Foto: Muhammad Amin

“Sekarang saya masih budi daya beragam jenis ikan hias. Mau bagaimana hanya itu yang kami bisa. Selain ikan hias diselingi ikan air tawar, untuk menambah penghasilan. Makan ikan kami sudah bosan setiap hari,” ujar Abah Kitting yang juga mengaku masih ada pengepul yang datang setiap panen.

Dulu, lanjut Abah Kitting, di sekitar perkampungan Pondok Melati memang pernah ada irigasi yang dibangun oleh Presiden Soeharto. Waktu itu, gotong royong warga masih terjaga dalam membuat pengairan. Bahkan ada simpan pinjam khusus pembudi daya ikan hias.

Pantauan Cendana News di Kelurahan Jatimelati, sisa-sisa kejayaan Kampung Pondok Melati sebagai sentra ikan hias memang masih terlihat. Hampir setiap rumah warga memiliki kolam ikan.

Bahkan di beberapa tempat lahan kosong ada petakan kolam ikan hias yang masih terpelihara. Sampai sekarang, ada ketua kelompok yang dituakan oleh warga.

Lihat juga...