Inovasi Ubah Sampah Plastik jadi Bahan Bakar Minyak Campuran

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Pengolahan sampah menjadi kebutuhan penting, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Termasuk di lingkungan kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

“Lingkungan kampus Undip, menghasilkan sampah kurang lebih 8,25 m3/hari dengan komposisi sampah organik sebanyak S6,67% dan sampah anorganik 43,33%. Hal ini perlu upaya agar, sampah-sampah ini bisa didaur ulang kembali, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,” papar dosen Fakultas Teknik Undip, Dr. Abdul Syakur, ST, MT saat ditemui di kampus Undip Tembalang, Rabu (11/11/2020).

Salah satu caranya, dengan menerapkan teknologi insinerasi pada penanganan sampah anorganik, seperti limbah plastik. Caranya dengan penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah, melalui pembakaran langsung dan terus-menerus, menggunakan udara yang mencukupi dan pada temperatur tinggi.

“Insinerasi ini dapat mengubah sampah anorganik, khususnya sampah plastik menjadi gas panas sisa hasil pembakaran, abu, dan partikulat. Caranya, sampah anorganik dibakar dalam tungku pembakaran dengan sistem pembakaran yang tertutup sehingga tidak menimbulkan polusi udara,” papar Syakur, yang juga ketua tim penelitian tersebut.

Dipaparkan, polusi yang ditimbulkan oleh ruang pembakaran, selanjutnya diabsorbsi oleh air yang disemprotkan dalam water scrubber. Partikulat yang terbawa aliran gas, akan dipisahkan dan dikumpulkan di dalam siklon secara efek sentrifugal. Sementara, aliran gas yang sudah bersih akan dialirkan ke udara melalui cerobong.

“Dari hasil pembakaran menggunakan teknologi insinerasi ini, dari 10 kilogram sampah plastik mampu menghasilkan kurang lebih sekitar 5-6 liter bahan bakar minyak (BBM), dengan waktu pembakaran sekitar 3 jam di suhu 200-300 derajat celcius,” terangnya.

Sementara, anggota tim penelitian lainnya, Arya Rezagama ST, MT memaparkan, minyak hasil pirolisis sampah plastik tersebut, masih belum dapat menyerupai BBM tertentu secara spesifik.

“BBM yang dihasilkan ini masih campuran. Jadi masih perlu dilakukan pemurnian lagi, untuk menghasilkan BBM yang lebih spesifik. Caranya melalui proses distilasi maupun fraksionasi. Namun secara umum, nilai densitas minyak hasil pirolisis plastik ini mendekati nilai densitas dari minyak tanah dan solar,” tambahnya.

Pihaknya berharap dari penelitian yang dilakukan tersebut, dapat menciptakan solusi yang tepat dalam mengatasi timbunan sampah anorganik. Sekaligus mengetahui sejauh mana penerapan teknologi insinerasi dalam mengatasi persoalan sampah atau limbah plastik.

“Tidak hanya itu, selain mampu mengurangi timbunan sampah plastik, panas yang dihasilkan dari mesin insinerator dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan keperluan domestik seperti pemanas ruangan atau air,” pungkasnya.

Lihat juga...