Investor Amerika Lirik Potensi Samota di Sumbawa

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) NTB, H Mohammad Rum. -Ant

MATARAM – Investor asal Florida, Amerika Serikat, melirik potensi yang dimiliki kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, untuk berinvestasi.

“Insyaallah, rencananya besok Selasa (24/11) kami bersama-sama akan membahas rencana investasi di Pulau Sumbawa, tepatnya di Samota,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) NTB, H Mohammad Rum, di Mataram, Senin (23/11/2020).

Ia mengatakan, investor asal Florida  melirik berbagai potensi yang ada di Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota). Karena itu, ia berharap kehadiran investor tersebut nantinya dapat berperan lebih dalam pengembangan kawasan Samota, melalui koridor bisnis yang bisa saling menguntungkan bagi negara dan daerah.

“Seperti apa dan bagaimana, kita lihat saja besok (Selasa, red). Karena nanti akan kami bahas secara bersama-sama,” ujarnya.

Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah, mendorong wilayah Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Tambora di Pulau Sumbawa menjadi kawasan yang ramah investasi.

“Selain menjadi cagar biosfer dunia, kawasan Samota di Pulau Sumbawa didesain menjadi kawasan yang ramah investasi. Samota yang merupakan akronim dari Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Tambora merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam. Potensi tersebut harus memberi manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sendiri sudah sejak lama menawarkan potensi investasi pengembangan kawasan perairan Teluk Salek, Pulau Moyo dan Gunung Tambora atau yang disebut Samota di Pulau Sumbawa itu.

Samota merupakan kawasan yang unik, karena memiliki potensi kelautan dan perikanan, perkebunan serta pengembangan pariwisata. Kawasan Samota diibaratkan akuarium raksasa, karena perairan laut yang dikelilingi Teluk Salek, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora.

Kawasan Samota berada di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Sumbawa, Dompu dan Bima. Daerah ini cocok untuk pengembangan minapolitan, pariwisata dan pertanian.

Pulau Moyo merupakan salah satu obyek wisata yang eksotik. Bahkan, mendiang Putri Diana dari Inggris, pernah berkunjung ke daerah itu untuk menikmati liburan.

Pulau Moyo dikembangkan untuk wisata bahari seperti “diving”, “snorkeling”, “hunting area”, “camping ground”, agrowisata dan pacuan kuda.
Sementara Gunung Tambora diarahkan untuk pendakian, geowisata dan agrowisata.

Sedangkan Teluk Saleh dikembangkan sebagai kawasan agribisnis, minapolitan, budi daya rumput laut, udang dan kerapu, dan tambak serta wisata bahari.

Nilai ekonomi Teluk Saleh pernah dihitung mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri. Potensi areal dan produksi perikanan tangkap mencapai 2.400 ton/tahun, potensi tambak 8.600 hektare, budi daya rumput laut 9.000 hektare, ikan bersirip 980 hektare dan mutiara 740 hektare.

Nilai produksi total per tahun mencapai Rp11,608 triliun, terdiri atas rumput laut Rp2,6 triliun, udang Rp5,16 triliun, ikan kerapu dan lainnya Rp2,8 triliun dan perikanan tangkap Rp48 miliar.

Potensi serapan tenaga kerja dari pengembangan sektor pariwisata dan pendukungnya di kawasan Samota bisa mencapai 14.935 orang dan ketahanan pangan 70.584 orang. (Ant)

Lihat juga...