Irigasi Masih Kering, Petani di Sikka Fokus Tanaman Hortikultura

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Petani di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum menanam padi karena debit air di saluran irigasi belum mencukupi dan masih kering. Para petani di sentra pertanian padi sawah memilih beralih menanam hortikultura dan kacang tanah di lahan sawahnya dengan mengandalkan sumur pompa air dangkal.

“Lahan sawah saya tanami dengan sayur-sayuran dan kacang tanah karena air di saluran irigasi mengering,” sebut Yulius Yoman, petani di Desa Magepanda, saat ditemui di lahan sawahnya,Senin (2/11/2020).

Menurut Yulius, sejak bulan Juni debit air menurun drastis sehingga tidak bisa mengairi areal persawahan di Desa Magepanda sehingga para petani yang menanam padi sebagian besar beralih menanam sayuran dan kacang tanah.

Meski begitu, dia akui hasil panen pun menurun drastis termasuk kacang tanah di lahan sawahnya seluas seperempat hektare karena air dari sumur bor air dangkal yang dimiliki di petak sawahnya sering tidak mengeluarkan air.

“Kacang tanah saya mengalami gagal panen. Banyak yang isinya kecil dan banyak yang tidak tumbuh karena kekurangan air dan terkena panas sehingga saya cabuti dan memilih yang bagus untuk dimakan sendiri,” ungkapnya.

Selain itu tambah Yulius, banyak petani yang membiarkan lahan sawahnya tidak ditanami tanaman apa pun sejak musim kemarau dari bulan Juni karena takut mengalami gagal panen akibat kekurangan air.

Ia menyebutkan, para petani pun ada yang terpaksa mengambil risiko dengan menanam padi dan sayuran namun mereka selalu bersiaga di sawah untuk menghidupkan mesin pompa guna menyirami tanaman.

“Ada juga tanaman sayuran dan padi yang mengalami gagal panen di mana ketika sedang berbuah air dari mesin pompa tidak mengalir. Kadang mesin pompa air hidup tapi airnya tidak mengalir karena habis tersedot,” ujarnya.

Petani Desa Magepanda lainnya, Osias Dosi pun mengaku membiarkan saja lahannya seluas hampir setengah hektare tanpa ditanami padi dan sempat juga beberapa kali menanam sayuran.

Osias mengaku, hasil panen sayuran pun tidak maksimal karena keterbatasan air dan dirinya pun harus bersiaga di lahan sawah untuk menghidupkan mesin pompa air kembali setelah dimatikan beberapa jam.

“Kadang repot kalau air tidak mengalir sama sekali sehingga sayuran pun layu dan mati. Kami hanya mengandalkan air dari pompa saja dan hampir semua petak sawah milik petani ada mesin pompa air,” ungkapnya.

Lihat juga...