Jamu Jun, Minuman Rempah Khas Semarang

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Ketika mendengar nama jamu tradisional, bayangan kita langsung tertuju ke beragam minuman herbal yang dibuat dari empon-empon, seperti jahe, kunyit, temulawak, hingga serai. Lalu, bagaimana dengan Jamu Jun? Jika mengira seperti halnya jamu tradisional, maka anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Berbeda dengan jamu tradisional, jamu jun terbuat dari tepung beras yang diberi campuran rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, kapulaga, gula aren, santan, dan daun pandan.

Uniknya, sesaat sebelum disantap, taburan bubuk merica diberikan sebagai topping pelengkap. Tidak mengherankan jika jamu khas Kota Semarang ini memiliki cita rasa gurih manis, dengan sedikit rasa pedas di tenggorokan.

Sugiarti, pedagang jamu jun, saat ditemui di sela berdagang di Jalan Lampersari, Semarang, Sabtu (7/11/2020). –Foto: Arixc Ardana

Tidak hanya itu, dengan beragam kandungan rempah yang ada, memberikan sensasi hangat di dalam perut, sehingga membuat jamu jun cocok dinikmati ketika musim hujan atau cuaca dingin.

“Mereka yang masuk angin atau perut kembung, juga bisa diobati dengan minum jamu jun, karena kandungan rempah-rempah yang ada,” papar Sugiarti, pedagang jamu jun saat ditemui di sela berdagang di Jalan Lampersari, Semarang, Sabtu (7/11/2020).

Keunikan lainnya, meski masuk kategori minuman, tekstur jamu jun berbeda dengan jamu tradisional umumnya. Jamu jun lebih kental, menyerupai bubur sumsum, karena bahan utamanya tepung beras.

“Biasanya, jamu jun ini diberikan kepada orang yang sedang sakit atau masa penyembuhan. Mereka kan tidak boleh makan yang keras-keras dulu, kalau dikasih nasi, ya harus lembek. Maka dibuatkan bubur, seringnya bubur sumsum dengan bahan baku tepung beras,” lanjutnya.

Seiring waktu, juga ditambahkan aneka rempah untuk menghangatkan tubuh, menjaga agar orang yang sakit tersebut bisa segera cepat sembuh. Hal tersebut kemudian terus berlanjut hingga sekarang.

“Bagi yang sehat juga disarankan untuk minum jamu jun. Seperti halnya jamu tradisional, jamu jun ini juga bisa untuk menjaga kesehatan tubuh, sekaligus mengenyangkan karena ditambah tepung beras,” tandasnya.

Sebagai salah satu kuliner khas Kota Semarang, keberadaan jamu jun sekarang ini relatif sulit ditemukan. Hanya ada beberapa pedagang yang masih menjual jamu tersebut. Hal tersebut dimungkinkan karena proses pembuatan cukup sulit serta penikmatnya yang makin menurun.

Sementara, terkait penamaan jamu jun, berasal dari kata jun, yang dalam bahasa Jawa berarti gentong tanah berleher sempit. Jun ini digunakan sebagai tempat menyimpan jamu, agar tetap hangat saat akan dinikmati.

“Saya juga masih memakai jun, karena ini memang ciri khasnya seperti itu. Pakai jun besar, kemudian tutupnya menggunakan kain, sehingga uapnya tidak keluar, jamu jun tetap hangat meski tanpa dimasak terus-menerus,” terangnya.

Salah seorang pembeli, Dian Permana, mengaku sudah beberapa kali membeli jamu jun di tempat tersebut. Diakuinya, selain murah meriah, hanya Rp6.000 per porsi, jamu jun juga memiliki cita rasa yang enak dan unik.

“Awalnya saya sempat kaget ketika penjual menambahkan bubuk merica ke atas jamu jun yang saya pesan. Ternyata, fungsinya selain menambah cita rasa juga untuk menghangatkan badan. Setelah saya coba, kok enak. Manis gurih, lalu di badan juga terasa hangat. Sejak itu saya sering beli,” jelasnya.

Diakui, banyak teman-temannya yang belum tahu apa itu jamu jun. Padahal, minuman tersebut menjadi salah satu kuliner khas Kota Semarang.

“Jadi terkadang saya suka ajak teman untuk beli, atau saya bungkuskan. Biar mereka juga tahu, kalau di Semarang itu ada jamu jun, yang rasanya enak dan menyehatkan,” pungkasnya.

Lihat juga...