Kadin Dorong Peningkatan Ekspor Bidang Kelautan dan Perikanan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengatakan, bahwa kinerja ekspor bidang kelautan dan perikanan mengalami pukulan akibat pandemi Covid-19. Padahal tahun lalu, ekspor di bidang itu mampu tumbuh hingga 6 persen.

Salah satu langkah yang akan diambil di antaranya memaksimalkan pelaksanaan Jakarta Food Security Summit (JFSS) Kelima pada 18-19 November 2020 mendatang untuk merumuskan langkah-langkah tepat dalam rangka meningkatkan kinerja ekspor sektor kelautan dan perikanan nasional.

“Kita memang perlu merumuskan dan memformulasikan kembali langkah-langkah tepat untuk mendorong sektor ini. Kita tahu, sektor perikanan dan kelautan punya andil besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Yudi dalam jumpa pers JFSS, Senin (16/11/2020) secara virtual.

Yugi mengungkapkan, untuk menunjang upaya tersebut, Kadin berharap pemerintah bisa menetapkan subsidi listrik dan bbm diberikan harga khusus untuk pembudidaya terutama di wilayah Indonesia Timur.

“Pelaku usaha juga berharap kejelasan penentuan lahan yang untuk revitalisasi budidaya tidak berbelit. Serta keringanan pajak di negara penerima untuk ekspor perikanan ke Uni Eropa, sebab kita itu kena 25 persen, sementara Taiwan 0 persen, di Eropa pemilik ikan yang bayar import tax-nya,” tukas Yugi.

Selain itu, Yugi mengatakan, pihaknya akan berupaya mendorong peningkatan investasi di sektor marinkultur. Pasalnya saat ini investasinya masih di bawah 5 persen dari total potensi yang ada.

Lebih lanjut, Yugi menekankan agar komoditas rumput laut tidak disamakan dengan ikan dan produk hidup di sertifikat kesehatannya pada Badan Karantina. Selain bisa ekspor mentah, itu juga dapat membantu petani kecil, yang secara paralel membangun industrinya.

“Kita pun berharap kedepan bisa lebih banyak perbankan yang siap membiayai sektor perikanan. Sampai saat ini kredit perikanan maritim masih di bawah 10 persen dari total kredit perbankan yang disalurkan, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 65 persen adalah laut,” pungkas Yugi.

Sementara itu, Ketua Panitia JFSS Kelima, Juan Permata Adoe menginformasikan, JFSS akan membahas sejumlah langkah, strategi dan solusi agar sektor pertanian, peternakan dan perikanan bisa menjadi tumpuan perekonomian nasional.

“Ada empat tema utama yang dibahas, yakni Momentum untuk Mendukung Petani, Peternak, dan Nelayan; Memaksimalkan Potensi Pasar Domestik; Strategi Ekspor Indonesia di masa Pandemi dan pasca Pandemi, dan Menyusun Strategi Baru Pasca Pandemi,” tutup Juan.

Lihat juga...