Kadin Indonesia Gagas ‘Inclusive Closed Loop’ untuk Sektor Pertanian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan kembali melaksanakan Jakarta Food Security Summit (JFSS) yang kelima pada 18-19 November mendatang. Seperti biasa, event dua tahunan tersebut akan membahas skema pengembangan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan, Franky Oesman Widjaja menilai, upaya meningkatkan produktivitas para petani dan sekaligus mencapai ketahanan pangan tidak pernah mudah.

“Kita masih sering dihadapkan pada persoalan ketersediaan lahan, benih unggul, pupuk, pembiayaan, pemasaran, irigasi, sarana penyimpanan hasil pertanian dan sarana prasarana lainnya, serta kelembagaan. Kendala lainnya juga, seperti kebijakan pemerintah menyangkut bibit dan bahan baku peternakan sapi penggemukan,” ujar Franky dalam jumpa pers JFSS, Senin (16/11/2020) secara virtual.

Meski demikian, Franky mengaku optimistis, kendala tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan pola kemitraan yang dilandasi prinsip saling menguntungkan antara pemerintah, pengusaha, perbankan, petani melalui koperasi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam rantai pasok terintegrasi.

“Kami di Kadin telah menggagas sistem inclusive closed loop. Sistem ini, merupakan sebuah skema kemitraan yang saling menguntungkan dari hulu-hilir sehingga keberlanjutan produksi terjaga dan petani sejahtera,” jelas Franky.

Dalam sistem inclusive closed loop, lanjut Franky, ada empat komponen utama, yaitu petani mendapat akses untuk membeli bibit dan pupuk yang benar, pendampingan kepada petani untuk menerapkan good practice agriculture, kemudahan akses pemberian kredit dari lembaga keuangan, dan jaminan pembelian hasil petani oleh perusahaan pembina (off taker).

“Keberadaan off taker tersebut tidak hanya memberi pendampingan tetapi juga memberi jaminan pembelian atas hasil produksi dengan harga pasar,” papar Franky.

Wakil Ketua Umum Bidang Makanan Olahan dan Industri Peternakan, sekaligus Ketua Panitia JFSS Kelima, Juan Permata Adoe menambahkan, bahwa sistem inclusive closed loop telah berhasil diterapkan di komoditas sawit.

Wakil Ketua Umum Bidang Makanan Olahan dan Industri Peternakan, sekaligus Ketua Panitia JFSS Kelima, Juan Permata Adoe, saat memberikan paparan dalam jumpa pers JFSS, Senin (16/11/2020) secara virtual. Foto: Amar Faizal Haidar

“Sistem ini telah berhasil menciptakan ekosistem komoditas sawit. Membangun ekosistem sawit yang sukses butuh 30 tahun. Sawit terbantu oleh waktu dan konsistensi kebijakan di era sebelumnya,” ungkap Juan.

Menurut Juan, sistem semacam itu seharusnya dapat diimplementasikan pada komoditas strategis lainnya. Apabila hal tersebut diinginkan, maka perlu juga disiapkan skema public private partnership (PPP).

“Membuat inclusive closed loop itu mahal dan tidak mudah. Jadi kalau komoditas lainnya ingin seperti sawit tidak mungkin bisa cepat dalam kondisi sekarang. Karena itu perlu ada PPP untuk komoditas non-sawit tersebut,” pungkas Juan.

Lihat juga...