Keawetan Kayu Tentukan Kualitas Produk ‘Furniture’

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Mesin bubut mesin terdengar meraung-raung saat proses penghalusan papan. Lima pekerja terlihat sibuk dengan tugas memotong papan untuk dibentuk menjadi daun pintu, sebagian menjadi meja dan kursi. Kesibukan tersebut terjadi setiap hari di tempat usaha furniture milik Sarifudin, di Lampung Selatan.

Sarifudin mengaku menekuni usaha kayu sejak belasan tahun silam. Ia memilih jenis kayu dengan tingkat ketahanan tinggi untuk menghasilkan produk berkualitas. Bahan baku kayu untuk furniture, memiliki tingkat ketahanan yang berbeda.

Ia menggunakan standar lima kelas awet kayu, meliputi kelas I kategori sangat tahan, kelas II kategori tahan, kelas III kategori sedang, kelas IV kategori tidak tahan, kelas V kategori sangat tidak tahan terhadap serangan jamur, rayap dan bubuk kering.

“Order dari pelanggan kerap dilakukan dengan pemilihan mutu kayu minimal kelas III, yang digunakan untuk pembuatan furniture rumah. Namun, ada pelanggan yang ingin produk furniture kelas I menyesuaikan ketersediaan bahan baku,” terang Sarifudin, saat ditemui Cendana News, Selasa (3/11/2020).

Sarifudin, pelaku usaha furniture di Lampung Selatan, Selasa (3/11/2020). -Foto: Henk Widi

Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, itu menyebut pelaku usaha furniture atau mebel harus paham mutu kayu. Pengalaman belasan tahun membuatnya banyak belajar tentang mutu, tingkat ketahanan kayu berdasarkan serat. Ia memilih menyediakan kayu mutu kelas I hingga kelas III. Sebab, selain menerima order skala kecil, ia juga mengerjakan pesanan skala besar.

Jenis kayu yang disediakan meliputi jati, medang, bayur. Namun sejumlah konsumen yang berniat membuat furniture berkualitas, kerap membawa bahan baku sendiri. Jenis bahan baku kayu yang dibawa berupa kayu meranti, kayu merbau, kayu laban, yang memiliki mutu kelas I. Makin langkanya jenis kayu berkualitas, membuat sebagian konsumen memilih kayu stok miliknya.

“Konsumen kerap memilih kayu yang saya sediakan, sehingga biaya pembuatan sekaligus pembelian kayu,” terang Sarifudin.

Pemilihan mutu kayu yang tahan serangan jamur, rayap dan bubuk dilakukan untuk menjaga keawetan furniture. Tren model furniture minimalis, ikut menghemat penggunaan kayu seiring berkurangnya jenis tanaman kayu mutu tinggi.

Jenis kayu bermutu kerap diperoleh dari pembelian di sejumlah petani yang menanam jati, medang, bayur, sebagai investasi jangka panjang.

Furniture yang kerap dipesan meliputi lemari, daun pintu, jendela, kursi dan meja. Permintaan dari perserorangan hingga partai besar kebutuhan kantor, sekolah juga dipenuhinya. Memasuki tahun ajaran baru sekolah, ia kerap menerima paket pembuatan furniture untuk ruang kelas. Paket dengan nilai puluhan juta hingga order perseorangan senilai ratusan ribu rupiah juga dipenuhi olehnya.

“Pelanggan adalah raja, meski hanya meminta dibuatkan talenan kayu, meja kecil, kursi kecil harus tetap dilayani,” terang Sarifudin.

Sarifudin kerap membeli kayu kelas I hingga III dari pemilik usaha jual beli kayu. Jenis kayu kelas III hingga I dibelinya dengan sistem kubikasi, mulai harga Rp1juta hingga Rp5juta. Makin tinggi mutu bahan kayu yang dibeli, harga furniture yang telah dibuat akan meningkat. Termahal, ia menyebut membuat satu set furniture tempat tidur, lemari baju, lemari rias seharga Rp15juta.

Laki-laki yang menjadi disablitas akibat kecelakaan motor dan harus memakai kruk atau tongkat ketiak itu, mengaku optimis. Dengan keterbatasannya, ia tetap bisa membuka usaha kecil furniture. Berkat usahanya, ia bahkan telah memiliki belasan karyawan yang membuatnya bisa membuka lapangan usaha. Dengan upah puluhan ribu hingga jutaan rupiah, ia bisa memberi sumber pemasukan bagi sejumlah pemuda.

Usahanya juga sekaligus menjadi penyerap sejumlah kayu yang ditebang oleh pemilik curciluar saw machine atau serkel. Petani yang memiliki pohon kayu mutu kelas baik jenis medang, jati dan bayur kerap menjualnya untuk kebutuhan. Sarifudin kerap membeli langsung dari petani, dan menggunakan jasa pemilik mesin serkel.

“Sebagian pemilik serkel yang menjual kayu kelas kepada saya, karena tahu mutu kayu yang saya gunakan,” bebernya.

Susilo, salah satu rekanan yang diajak berbisnis dengan Sarifudin, menyebut serapan kayu dengan tingkat keawetan tinggi sangat banyak. Ia kerap harus mencari permintaan kayu jati, medang dan bayur yang makin langka keberadaannya. Sebagian kayu kelas kerap berada di lokasi yang jauh dari permukiman, lereng perbukitan. Mesin serkel harus dibawa memakai kendaraan beroda empat.

“Saya mendapat pesanan dari pemilik pohon untuk dipakai sendiri atau ditebang, dipotong menjadi bahan lalu dijual ke pemilik usaha furniture,”cetusnya.

Sistem kubikasi diterapkan dalam pemotongan kayu sesuai jenis bahan yang dibuat. Mulai dari papan, kasau hingga balken, ia mematok harga mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Satu pohon besar jenis medang, bisa menghasilkan lima kubik kayu. Serapan kayu untuk bahan bangunan, membuat hasil pengolahan mesin serkel bisa langsung digunakan.

Kolaborasi pemilik mesin serkel dan usaha furniture, sebutnya, sangat apik. Keduanya memiliki ilmu untuk pemilihan mutu awet kayu yang seragam. Ketika pelanggan meminta kayu mutu kelas I, maka setiap ada petani menjualnya akan dijual ke usaha furniture. Pemilihan bahan mutu kayu, sekaligus menjaga kredibilitas pembuat furniture dan menjaga keawetan.

Lihat juga...