Keberadaan Hutan Mangrove di Lewolaga Flotim, Berkurang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Hutan mangrove di kawasan pesisir pantai di Desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai berkurang akibat berusia tua, ditebang serta adanya aktivitas nelayan di pesisir pantai tersebut.

Selain itu, wilayah ini berada di muara sehingga saat terjadi hujan banyak lumpur dan tanah serta sampah-sampah termasuk sampah plastik yang ikut terbawa ke laut dan menghambat pertumbuhan bakau.

“Dahulu kawasan pesisir pantai di Lewolaga ditutupi hutan mangrove dan banyak pohon kelapa namun akibat abrasi banyak pohon kelapa tumbang,” kata Mariatmo S. Lein, staf di SMPN 1 Titehena, Desa Lewolaga, Kabupaten Flores Timur, NTT, saat ditemui di sekolahnya, Rabu (25/11/2020).

Aktivis pecinta lingkungan yang juga staf di SMPN 1 Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, Mariatmo Lein, saat ditemui di sekolahnya, Rabu (25/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Atmo sapaan karibnya mengakui, sejak dahulu hingga kini areal pesisir pantai juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk memasak garam secara tradisional oleh beberapa warga desa.

Ia mengatakan, banyak bakau yang mulai tumbang akibat berusia tua sehingga dirinya selalu mengajak pihak sekolah untuk menanam anakan bakau di pesisir pantai Desa Lewolaga.

“Akibat berkurangnya hutan bakau menyebabkan abrasi sehingga banyak pohon kelapa yang ada di pesisir pantai tumbang tergerus abrasi. Dulu hutan mangrove bisa mencapai 20 meter ke arah laut,” ungkapnya.

Atmo mengaku, selain menanam bakau dirinya pun bersama komunitasnya melakukan penanaman terumbu karang dengan menggunakan dana secara swadaya di beberapa wilayah pesisir pantai utara dan selatan Kabupaten Flores Timur.

Ia menyebutkan, banyak terumbu karang di pesisir pantai utara rusak akibat adanya aktivitas pengeboman ikan oleh para nelayan, namun aktivitas tersebut sudah berkurang drastis 5 tahun belakangan.

“Sekarang sudah dilakukan pengawasan rutin dan penangkapan terhadap pelaku pengeboman ikan sehingga aktivitas pengeboman baik di pantai utara dan selatan Flores Timur mulai berkurang,” ucapnya.

Atmo berharap agar kegiatan penanaman bakau dan terumbu karang yang dilakukan kelompok pecinta alam dan murid sekolah bisa menjadi contoh bagi masyarakat agar tergerak melakukan hal serupa.

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 1 Titehena, Kabupaten Flores Timur, Fransiskus Dollu, mengakui masih minimnya kesadaran masyarakat di Flores Timur dalam menjaga kelestarian ekosistem laut, termasuk menjaga bakau dan terumbu karang.

Frando sapaannya, menegaskan, saat ini sudah ada beberapa warga di dalam komunitas pecinta alam dan pemerhati lingkungan yang secara swadaya berinisiatif melakukan penanaman bakau dan terumbu karang.

“Banyak lembaga dan kelompok pecinta alam yang kini mulai peduli dan melakukan penanaman bakau dan terumbu karang. Sekolah kami pun selalu mengajak para siswa untuk bersama-sama menanam bakau dan terumbu karang,” ujarnya.

Frando mengakui, di SMPN 1 Titehena pihaknya memperkenalkan konsep mencintai alam dan lingkungan sehingga bukan hanya teori saja, tetapi harus melakukan praktik di lapangan.

“Kita berharap dengan pengenalan konsep mencintai lingkungan sejak bangku sekolah bisa menular ke keluarga mereka dan masyarakat. Untuk menjaga bumi semua orang harus berpartisipasi melakukan langkah konkret,” pesannya.

Lihat juga...