Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Belum Mampu Kurangi Sampah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kebijakan penggunaan kantong plastik berbayar pada sejumlah toko waralaba belum efektif mengurangi sampah. Sejumlah plastik yang dominan berasal dari proses pembelian di toko waralaba justru menjadi bungkus sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai atau laut.

Amran Hadi, salah satu warga pesisir pantai timur Lampung Selatan kerap menjumpai sampah plastik berupa kemasan makanan, minuman yang berasal dari aliran sungai yang mengalir ke laut lalu terdampar di pantai Desa Legundi, Kecamatan Ketapang. Selain plastik kemasan makanan, kantong plastik yang mengambang kerap berisi popok bayi hingga kaleng makanan. 

Volume sampah yang terbawa gelombang laut sebutnya meningkat saat angin Timur dan mengganggu lahan budidaya kerang hijau dan rumput laut.

“Sebagian sampah plastik merupakan kemasan produk tertentu yang berasal dari sejumlah toko waralaba, meski diterapkan kebijakan penggunaan kantong plastik harus membayar tetap tidak menyurutkan penggunaan kantong plastik padahal dampaknya sangat terasa bagi lingkungan,” terang Hasran Hadi saat ditemui Cendana News, Rabu (4/11/2020).

Dampak bagi lingkungan pesisir pantai dirasakan sejumlah nelayan. Bagi nelayan sampah yang dibuang ke laut kerap tersangkut di jaring. Pada budidaya rumput laut memakai sistem jalur tambang sampah plastik tersangkut pada tanaman. Sisanya mengapung terbawa ombak ke pantai. Sampah jenis kaleng dan beling yang terbawa kerap berpotensi mengakibatkan kerusakan.

Penggunaan kantong plastik berbayar pada sejumlah toko waralaba sejak 1 Maret 2019 tidak lantas berimbas peralihan penggunaan kantong kain. Haryani, salah satu pembeli di toko waralaba yang ada di Penengahan mengaku tidak keberatan kebijakan kantong plastik berbayar. Konsumen sebutnya dikenai biaya tambahan Rp200 per lembar untuk kantong plastik sekali pakai.

“Lebih praktis karena kerap lupa membawa kantong kain dari rumah sehingga tetap memakai kantong plastik meski berbayar,” bebernya.

Pada toko waralaba di sejumlah rest area Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) kantong plastik tetap digunakan. Ariani, salah satu penjaga toko mengaku setiap konsumen kerap telah ditawari untuk memakai kantong plastik atau tidak. Aturan kantong plastik berbayar sebutnya telah ditetapkan sebagai komitmen pengusaha mengurangi sampah plastik.

Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT Hutama Karya pengelola ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung saat dihubungi, Rabu (4/11/2020). Foto: Henk Widi

Meski mengajak masyarakat bijak dalam penggunaan kantong plastik untuk kurangi dampak negatif lingkungan, sebagian masih kerap membuang sembarangan. Penempatan kotak sampah yang telah disediakan kerap tidak digunakan bahkan sebagian terserak di rest area. \

“Imbauan membuang sampah pada tempatnya kerap telah disampaikan namun kembali ke kesadaran individu,” bebernya.

Aktivitas membuang sampah di area tol menjadi hal dilarang termasuk plastik. Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT Hutama Karya, pengelola Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung menyebut selain menganggu lingkungan, sampah berpotensi membahayakan.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 Tentang Jalan Tol Pasal 42 disebutkan di sepanjang jalan tol dilarang membuang benda apapun baik di sengaja maupun tidak disengaja. Jenis sampah plastik kemasan makanan bisa dibuang pada tempat yang disediakan pada rest area. Meski sejumlah toko waralaba menerapkan kantong plastik berbayar, volume sampah plastik pada rest area belum berkurang.

Lihat juga...