Kejuaraan Angkat Besi Dunia Virtual, Faathir dan Rizky Menjadi Ujung Tombak Indonesia

Lifter Indonesia, Muhammad Faathir, menaiki podium setelah meraih medali emas pada kejuaraan angkat besi junior dan remaja di Tashkent, Uzbekistan, Sabtu (15/2/2020) – Foto Dok Ant

JAKARTA – Lifter Muhammad Faathir dan Rizky Juniansyah, menjadi ujung tombak tim angkat besi Indonesia, pada Kejuaraan Dunia Remaja Virtual 2020 yang berlangsung di Peru, 11-18 November.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI), Hadi Wiharja mengatakan, Faathir turun di kelas 61 kg. Dia berpeluang besar mempertajam rekor dunia remaja, yang saat ini tercetak atas nama dirinya dan diciptakan pada Kejuaraan Asia Remaja di Tashkent, Uzbekistan, Februari lalu.

Rasa optimisme itu tidak muncul tiba-tiba. Pasalnya, jika berkaca pada hasil Progress Test pada Agustus lalu, Faathir mampu membukukan total angkatan 283 kg (snatch 122 kg dan clean and jerk 161 kg). Sementara rekor dunia remaja untuk kategori total angkatan saat ini adalah 273 kg. “Jika Faathir mampu juga memecahkan rekor snatch seberat 121 kg atas nama Donan Dogan lifter Turki, maka Faathir sangat berpotensi untuk tiga rekor dunia dan tiga medali emas pada Kejuaraan Angkat besi Remaja Online pertama di dunia,” jelas Hadi.

Sementara Rizky Juniansyah, yang tampil di kelas 73 kg, adalah pemegang dua rekor dunia remaja. Dua rekor yang dipecahkannya, yaitu snatch dari 138 kg menjadi 139 kg, serta total angkatan dari 306 kg menjadi 307 kg yang juga sama-sama diciptakan di Tashkent.

Rizky, menurut Hadi, berpotensi melampaui dan mempertajam rekor tersebut, mengingat penampilannya pada tes progres yang digelar 30 September lalu. “Berdasarkan pengamatan di sesi latihan, ia sudah mampu melakukan angkatan snatch 149 kg, terjadi peningkatan 10 kg dari Februari lalu, serta clean and jerk 185 kg atau 17 kg dibandingkan di Tashkent (168 kg). Ini sangat menjanjikan,” ucapnya.

Meski begitu, Hadi mengatakan bahwa peran pelatih dan tim di sini tetap sangat diperlukan. Mereka harus mampu mengatur sistem pertandingan yang sangat berbeda dengan pertandingan offline. Sementara itu, tanpa mengecilkan keikutsertaan dua lifter putri yang baru bergabung di Pelatnas Kwini, Jakarta, yakni Najla Khoirunnisa (45 kg) dan Luluk Diana Triwijayana (49 kg), keduanya diharapkan mampu menembus peringkat lima besar dunia. (Ant)

Lihat juga...