Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sikka Tinggi Selama Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Koordinator Divis Perempuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TruK) Maumere, Sr.Eustochia, SSpS saat ditemui di kantornya, Jumat (6/11/2020). Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Sebagai lembaga yang selalu menangani berbagai kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TruK) Maumere mencatat jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat.

Selama pandemi Covid-19, TruK Maumere mencatat terjadi 92 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga bulan September 2020 dimana dengan jumlah tersebut kasus yang terjadi mengalami peningkatan drastis.

“Jumlah kasus ini mengalami peningkatan drastis selama kami menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kasus ini meningkat saat pandemi Corona,” kata Koordinator Divis Perempuan TruK Maumere, Sr. Eustochia, SSpS saat ditemui Cendana News di kantornya, Jumat (6/11/2020).

Suster Eusto sapaannya merincikan, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mencapai 70 kasus dengan perincian terhadap anak perempuan 24 kasus, anak laki-laki 18 kasus, terhadap isteri 26 kasus serta lainnya 2 kasus.

Ia menambahkan, kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan ada 11 kasus, isteri 12 kasus serta terhadap perempuan dewasa sebanyak 9 kasus. dimana di dalamnya terdapat 3 orang difabel.

“Jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual ini ada 32 kasus. Hampir setiap hari ada saja yang melaporkan kasus kekerasan ke kantor kami dan paling banyak dilaporkan oleh ibu rumah tangga,” terangnya.

Suster Eusto mengaku setelah mendapatkan laporan pihaknya melakukan langkah-langkah penyelesaian namun banyak suami yang sudah pergi meninggalkan korbannya sehingga sulit diselesaikan.

“Kami menyayangkan banyak korban yang tidak mau melaporkan kasus yang mereka alami kepada pihak berwajib sehingga kasus tersebut bisa diproses secara hukum,” sesalnya.

Warga Kota Maumere, Marselinus Saga menyesalkan banyaknya kasus yang terjadi dan menurutnya, mungkin faktor ekonomi turut menyebabkan terjadinya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Menurut Marsel, dampak pandemi Corona membuat perekonomian dalam keluarga mengalami kesulitan dan banyak keluarga mengalami kesulitan keuangan termasuk pegawai kantor pemerintah.

“Mungkin juga karena pengaruh ekonomi dalam rumah tangga mengalami guncangan akibat pandemi Corona. Memang banyak orang yang mengalami stres akibat menurunnya pendapatan yang berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga,” ungkapnya.

Marsel menyarankan agar ada semacam lembaga konseling di organisasi keagamaan agar rumah tangga yang mengalami masalah bisa menjalani konsultasi serta penerapan hukum adat dengan hukuman dan denda yang berat agar ada efek jera.

Lihat juga...