Kelola Lahan Terlantar, Petani Kemiri di Solok Raup Untung

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SOLOK – Perkebunan kemiri yang ada di Nagari/Desa Indudur, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menuai hasil menggembirakan, setelah lahan terlantar di desa tersebut berhasil dikelola.

Salah seorang petani di Desa Indudur, Murliati, mengatakan, bertani kemiri sudah menjadi mata pencarian bagi kaum ibu di Desa Indudur. Sebab banyak ibu di Indudur yang bekerja secara berkelompok untuk menghasilkan minyak kemiri.

Diakuinya bahwa di Indudur itu, kini lahan perkebunan masih terus bertambah, karena banyak petani tengah mempersiapkan lahan yang terlantar untuk ditanami kemiri. Kegiatan ini pun dilakukan setelah mendapat izin dari Pemerintah Nagari/Desa.

“Petani kemiri di Indudur ini, kebanyakan ibu-ibu. Sementara yang bapak-bapaknya banyak turun ke sawah. Dan hasil berkebun kemiri, terbilang sangat menjanjikan,” katanya, Senin (16/11/2020).

Ia menjelaskan bahwa di Desa Indudur sudah lama menjadi sumber penghasil kemiri. Setidaknya terhitung sejak 5 tahun yang lalu, tanaman kemiri telah ada di Indudur. Namun seiring waktu berlalu, kawasan perkebunan pun terus ditambah.

Menurutnya, bentuk izin yang diberikan oleh Pemerintah Nagari itu sebagai bentuk dukungan terhadap petani kemiri. Sehingga membuat petani semakin giat untuk mengelola dan memproduksi minyak kemiri.

“Harga kemiri itu sangat bagus. Dalam bentuk buah kering saja harga kemiri itu Rp8.000 – Rp9.000 per kilogram. Sementara bila sudah jadi minyak kemiri bisa dijual Rp30.000 per botol dengan berat isi 60 mililiter.

Dikatakannya memang membutuhkan waktu untuk menghasilkan minyak kemiri. Mulai dari memanen, menjemurnya hingga kering, setelah itu barulah dikelola jadi minyak kemiri.

Soal pasar hasil perkebunan masyarakat di Indudur ini, telah ditampung langsung oleh Badan Usaha Milik Nagari/Desa (BUMNag/BUMDes). Hal ini juga sebagai upaya menghidupkan rantai perekonomian di Desa Indudur.

Sementara itu, Wali Nagari atau Kepala Desa Indudur, Zofrawandi, menjelaskan tumbuh dan berkembangnya perkebunan kemiri adalah sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Karena selama ini banyak lahan yang dibiarkan terlantar, dan pihaknya pun menerbitkan sebuah aturan untuk mendorong pemanfaatan lahan kosong tersebut.

“Saya melihat lahan kosong itu potensi untuk dikembangkan. Dan sangat disayangkan bila dibiarkan begitu saja. Nah saya pun menerbitkan Peraturan Nagari, ternyata berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Zofrawandi melihat bila tanaman kemiri itu terus tumbuh, maka dapat meningkatkan perekonomian. Selain kemiri, di Indudur juga berkembang perkebunan karet, manggis, tanaman padi, dan kopi.

“Sekarang perubahan ekonomi masyarakat sudah mengarah ke arah yang lebih baik. Saya berharap masyarakat konsisten dengan hal ini,” harapnya.

Lihat juga...