Kendala Petani Kakao di Manokwari Selatan Hanya Modal

Kakao, ilustrasi -Dok: CDN

MANOKWARI – Perkebunan kakao di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, hanya membutuhkan peremajaan untuk mencapai target produksi 1.000 ton per bulan, kata Ketua Koperasi Eiber Suth Ransiki, Yusuf Kawai, di Manokwari, Sabtu.

Dia mengutarakan, bahwa luas keseluruhan perkebunan tersebut mencapai 1.868 hektare. Lahan itu merupakan bekas operasi PT Coklat Ransiki yang sudah tidak beroperasi sejak beberapa tahun lalu.

“Sebagian besar tanamannya sudah rusak, jadi dari 1.868 hektare itu hanya 200-an hektare yang berproduksi secara konsisten. Sisanya masih membutuhkan revitalisasi,” ucap Yusuf.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, pada kesempatan sebelumnya berharap agar produksi kakao Ransiki meningkat hingga menghasilkan panen 1.000 ton per bulan. Gubernur yakin, hal itu dapat tercapai karena lahan yang tersedia masih sangat luas.

Dominggus juga mengutarakan, bahwa nilai bisnis dari pengelolaan 200 hektare oleh petani dan koperasi selama tahun 2020 ini sudah mencapai Rp2,8 miliar.

Gubernur ingin seluruh lahan bisa dikelola agar makin banyak pendapatan yang diterima, baik koperasi maupun petani.

Lebih jauh Yusuf Kawai mengungkapkan, kendala yang dihadapi petani dan koperasi saat ini hanya modal. Petani di daerah tersebut dinilainya siap untuk menggarap seluruh lahan perkebunan yang berada di Kampung Abresso itu.

“Kendala kami cuma dana, kalau ada buyer (pembeli) yang bisa men-suport, kami siap,” kata Yusuf.

Saat ini, produksi kakao di Manokwari Selatan sudah lancar meskipun belum banyak. Dari pengelolaan 200 hektare lahan perkebunan tersebut, Koperasi Eiber Suth sudah mampu melakukan pengiriman secara rutin.

“Dulu dua bulan sekali baru bisa kirim, tapi sekarang dalam satu bulan kami bisa kirim dua kali. Sekali kirim 12 ton ke Surabaya,” katanya.

Untuk ekspor, lanjut Yusuf, saat ini baru dilakukan ke Inggris. Sudah cukup banyak pembeli dari sejumlah negara mengajukan permintaan, namun belum bisa dipenuhi karena produksi masih terbatas.

“Kalau semua lahan sudah produksi, kami yakin harapan Pak Gubernur akan tercapai, dan semua permintaan dari beberapa negara tadi kami bisa penuhi,” ujar Yusuf Kawai. (Ant)

Lihat juga...