Kepatuhan Warga Cianjur Terapkan Protokol Kesehatan Rendah

Gugus Tugas COVID-19 Cianjur, Jawa Barat, melakukan razia masker di sejumlah titik di wilayah perkotaan untuk meningkatkan kepedulian warga memutus rantai penyebaran virus berbahaya di Cianjur – Foto Ant

CIANJUR – Gugus Tugas COVID-19 Cianjur, Jawa Barat menilai, tingkat kepatuhan warga setempat untuk menerapkan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19 sangat rendah. Terbukti, hingga saat ini sudah 13 ribu orang terjaring, dalam razia masker dan mendapatkan sanksi dari petugas.

Sanksi yang diberikan mulai dari sanksi soal sosial hingga denda. Kepala Satpol PP Cianjur, Hendri Prasetyadi mengatakan, sejak awal diberlakukannya sanksi pelanggaran protokol kesehatan, tingkat kesadaran dan kepatuhan warga sangat rendah.

Bahkan hingga saat ini, setiap kali menggelar razia atau operasi yustisi, tidak pernah kurang dari 100 orang warga, yang ditemui melanggar protokol kesehatan dan mendapatkan sanksi. “Sebagian besar pelanggar merupakan warga yang berdomisili di perkotaan. Tercatat satu bulan terakhir, jumlah warga yang terjaring sebanyak 763 orang, sebagian besar tidak menggunakan masker, saat beraktivitas di luar. Untuk total selama pandemi mencapai 13 ribu orang,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah berupaya terus mengimbau warga, untuk mematuhi protokol kesehatan. Terutama ketika berada di luar rumah atau sedang berada di pusat keramaian, dengan cara menggunakan masker dan selalu menjaga jarak. Hal itu sebagai upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, yang terus meningkat sejak satu bulan terakhir.

Juru Bicara Pusat Informasi dan Kordinasi COVID-19 Cianjur, dr Yusman Faisal menilai, minimnya tingkat kepatuhan warga untuk menerapkan protokol kesehatan, menjadi faktor utama sulitnya mengembalikan status Cianjur ke zona hijau.

Bahkan dari catatannya, Cianjur terancam masuk ke zona merah, karena tingginya angka penularan. “Saat ini sudah kembali menjadi zona kuning, setelah sebelumnya sempat menjadi zona oranye akibat munculnya klaster pondok pesantren, namun untuk kembali menjadi zona hijau akan sangat sulit, kalau tidak didukung dengan kebiasaan warga yang menjaga kepatuhan tarkait protokol kesehatan,” tegasnya.

Letak geografis Cianjur, yang bersebelahan dengan kota dan kabupaten berstatus zona merah, membuat angka penularan semakin tinggi. Hal itu dipicu aktivitas warga dari luar kota ke Cianjur. Ditambah minimnya kepedulian warga untuk menjalankan protokol kesehatan.

Sehingga pihaknya mengimbau warga untuk benar-benarkan menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah dengan cara menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus berbahaya.

“Tidak menutup kemungkinan zona kuning akan menjadi zona merah, selama warga tidak mendukung upaya memutus rantai penyebaran dengan cara tidak mengindahkan protokol kesehatan. Perang terhadap corona, adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...