Keripik Tempe Sagu Sanan di Malang Diminati Wisatawan

Editor: Koko Triarko

MALANG – Keripik tempe sagu merupakan salah satu varian baru keripik tempe yang mulai banyak diminati wisatawan di Malang, untuk dijadikan sebagai oleh-oleh. 

Salah satu perajin keripik tempe, Laili Afrida, mengaku sudah menekuni usaha keripik tempe sejak 2008. Namun khusus untuk keripik tempe sagu, ia baru mulai memproduksinya sejak 2018.

Afrida menjelaskan, berbeda dengan keripik tempe biasa yang dibalut dengan tepung, keripik tempe sagu justru tidak perlu dibaluri dengan tepung karena berasal dari campuran kedelai, ragi, tepung sagu dan tepung tapioka.

Laili Afrida menunjukkan keripik tempe sagu buatannya, Sabtu (7/11/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

“Jadi proses awalnya dari kedelai yang sudah diberi ragi, dicampur dengan tepung sagu, tepung tapioka dan dimasukkan ke dalam plastik. Setelah itu, tempe didiamkan hingga matang selama 3 hari, baru kemudian digoreng bersama bumbu rempah, bawang putih, miri, gula dan garam,” jelasnya kepada Cendana News, saat ditemui di rumahnya yang berlokasi di sentra industri tempe kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Sabtu (7/11/2020).

Dikatakan Afrida, harga tempe sagu mentah memang lebih mahal jika dibandingkan tempe biasa. Harga tempe sagu Rp25.000 per lonjor, sedangkan tempe biasa Rp16.000 per lonjor dengan panjang satu meter.

“Kalau matangnya sudah jadi keripik tempe sagu harganya Rp60.000 per kilogram, sedangkan keripik tempe biasa hanya Rp40.000 per kilogram. Kami juga menyediakan keripik sagu kemasan 100 gram dengan harga Rp6.500 dan kemasan 200 gram dengan harga Rp12 ribu,” sebutnya.

Namun demikian, menurut Afrida, daya tahan keripik tempe, bisa lebih panjang jika dibandingkan keripik tempe sagu.

“Keripik tempe biasa bisa tahan 3 bulan, sedangkan keripik tempe sagu hanya tahan 1 bulan karena bercampur tepung sagu dan tapioka. Jadi seperti kerupuk, kalau kena angin cepat melempem. Saya juga tidak pernah memakai bahan pengawet,” imbuhnya.

Terkait bumbu yang dipakai, Afrida mengaku meraciknya sendiri dan sengaja tidak menyerahkannya kepada pegawai, supaya cita rasanya tetap terjaga.

“Saya tidak mau seperti kebanyakan orang yang menyerahkan masalah bumbu ke pegawai. Khusus untuk bumbunya, saya yang pegang dan meracik sendiri, pegawai hanya mengaduk bumbunya,” tuturnya.

Afrida juga meminimalisir penggunaan MSG dan lebih cenderung menggunakan gula garam untuk memunculkan rasa gurih.

“MSG saya pakai sedikit saja untuk penguat rasa. Selebihnya memakai garam dan gula. Jadi, meskipun satu kampung ini sama-sama membuat keripik tempe sagu, tapi rasanya berbeda,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu pembeli, Alfi, mengaku saat ini lebih menyukai keripik tempe sagu daripada keripik tempe biasa.

“Kalau keripik tempe biasa sudah sering makan, jadi sudah biasa. Tapi kalau yang keripik tempe sagu ini baru beberapa kali merasakan. Menurut saya, jika dibandingkan, keripik tempe sagu rasanya lebih gurih,” pungkasnya.

Lihat juga...