Keterbatasan Subsidi, Petani Didorong Gunakan Pupuk Organik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, memastikan stok pupuk bersubsidi di Jateng, tidak mencukupi untuk seluruh kebutuhan petani. Mengingat alokasi yang diberikan hanya 42 persen, dari total yang diajukan.

“Kebutuhan di kalangan petani saat ini perlu didukung dengan non-subsidi dan organik, mengingat stok pupuk subsidi kita terbatas. Dari kebutuhan petani, hanya jenis urea yang berlimpah hingga akhir tahun 2020, selebihnya kekurangan stok,” papar Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Distanbun Jateng, Tri Susilardjo, saat dihubungi di Semarang, Senin (16/11/2020).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya mendorong penggunaan pupuk organik, melalui program bantuan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) yang sudah digelontorkan ke petani, yang diikuti dengan pelatihan pembuatan .

Harapannya, para petani nantinya bisa memproduksi secara mandiri. Hal ini tentu akan mengurangi beban pupuk subsidi, sekaligus lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Hal senada juga disampaikan, Sekretaris Komisi B DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichadl. Menurutnya, penggunaan pupuk organik, dinilai menjadi salah satu cara yang tepat untuk mengatasi kebutuhan pupuk petani, di tengah keterbatasan pupuk bersubsidi.

“Apalagi bahan baku pupuk organik yang melimpah dan murah, serta relatif mudah dalam pembuatannya. Ini menjadi pijakan, kita dorong agar petani untuk berpindah ke pupuk organik. Tentu saja perlu dukungan dari pemerintah,” terangnya.

Pihaknya juga mendorong ada gerakan bersama dari pemerintah dan dinas terkait, dalam memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik.

“Pupuk organik ini bisa menggunakan kompos, kotoran ternak, atau bahan-bahan alami lainnya. Jika ingin mengembangkan pupuk organik, Pemprov Jateng juga sudah mulai memetakan potensi ternak atau sumber penghasil pupuk organik lainnya di satu daerah,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur juga menandaskan, bahwa pihaknya mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik.
Selain lebih aman dari segi kesehatan, hasil produksi dengan pupuk non kimia juga lebih banyak. Termasuk harga jual hasil pertanian atau perkebunan juga lebih mahal, karena berlabel organik.

Program tersebut sudah dilakukan melalui kelompok tani, yang tergabung dalam Komunitas Penyuluh Tani Organik) Kota Semarang.

“Pupuk organik ini harganya lebih murah, stoknya juga banyak. Sekaligus mampu meningkatkan nilai ekonomis dari produk pertanian yang dihasilkan. Misalnya beras, sayur, termasuk cabai, tomat dan lainnya, itu harga jualnya lebih mahal dibanding dengan sayuran non organik,” tandasnya.

Lihat juga...