Ketidaktaatan Prokes dan Data Ganda Sebabkan Angka Covid-19 di Jateng Tinggi

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Ketidaktaatan penerapan protokol kesehatan masyarakat, disinyalir menjadi penyebab angka Covid-19 di Jawa Tengah masih tetap tinggi. Termasuk di Kota Semarang, yang menjadi salah satu wilayah penyumbang tertinggi angka Covid-19 di Jateng.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang per 20 November 2020, kepatuhan masyarakat dalam penerapan prokes, khususnya menjaga jarak berkisar 66 persen, sementara memakai masker dan mencuci tangan pakai sabun tingkat kepatuhannya berkisar 70 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dua minggu sebelumnya, yang masing-masing di angka 80 persen untuk cuci tangan dan pakai masker, dan menjaga jarak di angka 70 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, saat ditemui di kantor Dinkes Jateng, Semarang, Senin (30/11/2020). –Foto: Arixc Ardana

“Ada penurunan ketaatan dalam penerapan protokol kesehatan, sehingga kita duga mengakibatkan kenaikan angka Covid-19 di Kota Semarang. Sementara untuk klaster, sebenarnya tidak yang baru, namun memang angkanya cukup besar, khususnya untuk klaster keluarga, perusahaan dan perkantoran,” tandas Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, saat ditemui di kantornya, Senin (30/11/2020).

Berdasarkan data siagacorona.semarangkota.go.id, per 30 November 2020, pukul 17.00 WIB, jumlah kasus aktif Covid-19 mencapai 745 orang. Angka tersebut menunjukkan adanya tren kenaikan dalam seminggu terakhir, dari angka 583 kasus aktif pada 24 November 2020.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, juga memaparkan hal senada. Kenaikan angka Covid-19 di Jateng, disinyalir akibat penurunan kesadaran masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan.

“Ini yang menjadi perhatian kita, agar penerapan protokol kesehatan bisa terus dilakukan secara disiplin oleh masyarakat,” terangnya.

Namun, di satu sisi pihaknya juga mengklaim ada kekeliruan data terkait penambahan kasus aktif Covid-19, khususnya adanya data ganda.

“Dari data pusat, pada 29 November 2020 terjadi penambahan angka harian kasus positif di Jateng sebanyak 2.036, namun dari data kita, penambahan yang terjadi hanya 844 kasus,” terangnya.

Setelah dilakukan penelusuran, pihaknya menemukan adanya data ganda yang dimasukkan. Dicontohkan di Kabupaten Kendal, ada satu nama pasien yang ditulis sampai lima kali. Selain itu, juga ada data lama yang baru dimasukkan pada tanggal tersebut.

“Hasilnya dari dobel data atau data ganda mencapai 694 kasus. Selain itu, kita juga menemukan banyak kasus lama yang dimasukkan dalam rilis Satgas Covid-19 pada 29 November itu. Termasuk data yang sebenarnya sudah diinput pada Juni 2020 lalu,” tambahnya.

Terkait persoalan perbedaan data tersebut, Yulianto mengaku sudah berkali-kali koordinasi dengan Satgas Covid-19 Pusat. “Kami terus komunikasi dengan pusat terkait perbaikan data ini. Kami meminta agar pusat mengambil saja data di website kami, corona.jatengprov.go.id karena itu sudah pasti benar. Ini saran yang kami sampaikan ke pusat, agar menjadi perhatian,” tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran dalam penerapan protokol kesehatan, dalam upaya pencegahan Covid-19. Terkait data, pihaknya meminta masyarakat untuk bisa mengecek langsung di laman corona.jatengprov.go.id .

“Utamanya, ayo jangan sampai tidak memakai masker, berkerumun. Kita minta masyarakat juga terus disiplin. Kita juga minta segenap tokoh agama, tokoh masyarakat untuk terus berkampanye melakukan edukasi terkait penerapan protokol kesehatan di masyarakat,” terangnya.

Di sisi lain, Ganjar juga memaparkan saat ini Pemprov Jateng terus menggalakkan swab test atau PCR. Data pada minggu ke-48, jumlah tes PCR di Jateng diklaim mencapai 70.053 tes. Angka tersebut lebih tinggi dari target WHO yang mensyaratkan 1/1000 penduduk per minggu.

“Dengan jumlah penduduk Jateng sekitar 34 juta, maka standarnya ada 34 ribu orang yang dites per minggu, namun jumlah testing PCR di Jateng pada minggu ke-48 mencapai 70.053 tes. Jadi, jumlah tes kita dua kali lebih tinggi dari target WHO,” terangnya.

Tingginya tes di Jateng ini tentu berpengaruh pada tingginya angka kasus positif Covid-19. Sebab, makin banyak tes yang dilakukan, akan makin banyak kasus yang ditemukan.

“Ini yang perlu diketahui masyarakat. Jadi masyarakat harus paham, kalau kasus ditemukan banyak karena tesnya banyak, itu hal yang positif. Artinya, kita semua bisa tahu lebih dini, sehingga bisa memberikan respons yang lebih cepat. Kalau jumlah tesnya sedikit, tentunya yang diketahui hasilnya sedikit,” pungkasnya.

Lihat juga...