Kinerja Pemandu Wisata di Lamsel, Menurun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Beroperasinya kembali sektor pariwisata alam di Lampung Selatan, belum berdampak bagi meningkatnya penghasilan para pemandu wisata. Selain belum banyaknya wisatawan yang datang, juga karena dampak teknologi digital yang memungkinkan para wisatawan mendapatkan informasi melalui berbagai media sosial.

Rohmat, salah satu pemandu wisata (tour guide), menyebut belum meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan menjadi pemicu berkurangnya peluang kerja jasa pemandu wisata.

Menurut Rohmat, setiap anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis) telah mendapat pelatihan pemandu wisata. Sebagai ketua Pokdarwis

Ragom Helau, ia pun memaksimalkan peran setiap anggota Pokdarwis sekaligus sebagai pemandu wisata. Namun selama pandemi Covid-19, minat wisatawan yang minim mendorong penurunan kinerja pemandu wisata.

Rohmat bilang, upaya promosi telah dilakukan agar wisatawan berkunjung. Menggunakan media sosial, pemberitaan dan juga komunikasi personal penawaran untuk mengunjungi destinasi wisata telah dilakukan. Penyiapan fasilitas, penerapan protokol kesehatan pada objek wisata yang telah dilakukan, menjadi cara menarik minat wisatawan.

“Kinerja pemandu wisata saat ini sedang menurun, karena kondisi ekonomi mengalami resesi ,dan pelaku perjalanan wisata kerap lebih menyukai ulasan, rekomendasi kunjungan wisata melalui media sosial sehingga peran pemandu wisata hanya sebagai pelengkap,” terang Rohmat, saat ditemui Cendana News, Minggu (8/11/2020).

Penggunaan teknologi yang makin canggih, sebutnya, mendorong atraksi, amenitas dan aksebilitas lebih mudah diperoleh dari google. Setiap objek wisata seperti pantai dan pulau Mengkudu yang telah terdata di googlemaps, membuat wisatawan memaksimalkan aplikasi tersebut. Pemandu wisata cukup menunggu di lokasi tanpa harus menjemput wisatawan.

Kemajuan terknologi tersebut, ungkap Rohmat, juga berdampak positif bagi pemandu wisata. Dengan adanya aplikasi, kinerja pemandu wisata bisa lebih dimudahkan. Tanpa harus menjemput dari titik kedatangan, misalnya pelabuhan, bandara dan terminal, wisatawan bisa menjangkau lokasi. Efesiensi waktu dan biaya bisa dialokasikan ke hal lain.

“Sebelum ada teknologi googlemaps, pemandu wisata kerap harus menjemput, kini cukup share location ke lokasi tujuan,” bebernya.

Kemajuan teknologi makin mendorong pemandu wisata dan pelaku usaha lebih kreatif. Saat ini, pemandu wisata dan pengelola mulai memaksimalkan Instagram, Facebook dan Youtube. Aktivitas memandu yang dilakukan memakai media sosial, menjadi bagian dari promosi digital. Daya tarik tersebut dilakukan sebagai bagian dari kreativitas pemandu wisata.

Namun pada sisi lain, fee atau jasa pemandu wisata yang sebelumnya kerap diberikan, berkurang. Sebagai strategi untuk meningkatkan daya tarik, pemandu wisata memperkenalkan sejumlah spot baru. Pada satu objek wisata dengan kreativitas pengelola, muncul sejumlah spot foto yang menarik untuk dikunjungi.

“Terkait penghasilan, biasanya wisatawan yang berkunjung dengan jasa pemandu wisata, terutama dengan paket tour, tetap memberikan tips,” terang Rohmat.

Zakaria Anwar, ketua Komunitas Putra Krakatau dan Smile Train menyebut, peran pemandu wisata sangat penting. Namun perkembangan teknologi dan masa pandemi, menurunkan peran jasa pemandu wisata. Solusi yang diberikan dengan menciptakan kreasi untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung. Paket jasa wisata kerap telah termasuk jasa tour guide.

“Pemandu wisata saat ini hanya digunakan pada paket perjalanan wisata di sejumlah destinasi, jika pada satu lokasi wisatawan memilih berangkat sendiri,” bebernya.

Pelaku usaha wisata berupa hotel, penginapan di lokasi destinasi wisata, juga kerap telah menyediakan petugas khusus. Alternatif yang bisa dijadikan sumber penghasilan pemandu wisata saat ini dengan pembuatan konten.

Konten berpeluang menghasilkan uang dilakukan dengan Vlog dan Youtube. Berbasis pemandu wisata, konten menarik berpotensi menghasilkan uang.

Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi Dinas Pariwisata Lamsel, menyebut pandemi merugikan pemandu wisata. Namun di sisi lain, justru melahirkan kreativitas bagi sejumlah pemandu wisata. Munculnya peluang membuat konten wisata virtual bisa dilakukan dengan memakai Youtube.

“Peminat objek wisata bisa mengunjungi sejumlah destinasi dengan hanya menonton video, syukur jika kondisi normal wisatawan bisa datang,” bebernya.

Destinasi wisata, terutama berkonsep alam bahari, pegunungan, tirta sebutnya, telah dibuka. Pelaku usaha jasa wisata tetap menerapkan prokes dalam melayani wisatawan. Sebab, belum berakhirnya pandemi kerumunan pada objek wisaya berpotensi menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Pemandu wisata yang tetap melakukan aktivitas tetap wajib menerapkan prokes.

Lihat juga...