KNEKS: Konsep Wisata Halal Harus Inklusif

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar mengatakan, konsep wisata halal harus bersifat inklusif dengan persiapan infrastruktur wisata tidak hanya untuk wisatawan muslim saja. Tetapi juga dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh semua golongan wisatawan. 

“Jadi konsep wisata halal itu inklusif, tidak hanya untuk muslim saja, tapi non muslim juga bisa menikmati,” ujar Afdhal kepada Cendana News saat dihubungi, Minggu (22/11/2020).

Karena menurutnya, wisatawan baik itu domestik maupun mancanegara sangat mengapresiasi konsep wisata yang inklusif. Yakni contohnya, dengan menyajikan atraksi yang ramah keluarga dan makanan halal yang sehat dan higienis.

“Nah, konsep wisata halal ini terus berkembang di berbagai negara tidak hanya di Indonesia,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa sektor pariwisata halal sangat penting untuk dikembangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Apalagi gaya hidup halal telah menjadi tren global, tentu segala upaya harus dikembangkan dengan inovasi dan kreativitas yang dapat menarik wisatawan ke lokasi wisata halal tersebut.

“Ya memang dalam berwisata, mereka yang muslim ingin mendapatkan layanan yang sesuai dengan keyakinannya. Tapi destinasi itu harus tetap inklusif bagi semua wisatawan, memberi kenyamanan,” tukasnya.

Ketua Perkumpulan Pariwisata halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, pada diskusi virtual di Jakarta, beberapa waktu lalu. -Foto: Sri Sugiarti

Ketua Perkumpulan Pariwisata halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan sangat optimis Indonesia dapat menjadi pusat wisata halal dunia, apabila pengembangan wisatanya itu bersifat eksklusif.

“Kita bisa mengembangkan wisata halal yang sifatnya inklusif. Jadi bukan hanya diterima oleh muslim, tapi juga produk atau jasa yang ada di area wisata halal menjadi referensi bagi non muslim juga,” ujar Riyanto, kepada Cendana News saat dihubungi Minggu (22/11/2020).

Karena konsep wisata syariah atau wisata halal menurutnya adalah rahmatan lil allamin dan sifatnya itu inklusif.

“Konsep wisata halal ini sejalan dengan kode etik pariwisata dunia, sejalan juga dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” urai Riyanto.

Untuk mewujudkan wisata halal yang inklusif tersebut menurutnya, bisa diterapkan dengan bersinergi dengan para pemangku kepentingan di Indonesia. Seperti pemerintah pusat dan daerah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas wisata halal.

Lihat juga...