Kolaborasi Pelaku Usaha Warung Kopi dan Petani, Angkat Kopi Merapi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Munculnya tren budaya minum kopi di tengah masyarakat khususnya kalangan anak muda sejak beberapa tahun terakhir, diketahui mampu menumbuhkan jenis usaha baru di bidang kuliner. Hal itu terlihat dari banyaknya kedai kopi yang bermunculan dan semakin menjamur di berbagai daerah.

Hal serupa juga terjadi di Yogyakarta. Salah satu kawasan yang saat ini mulai ramai oleh warung-warung dan kedai kopi adalah kawasan lereng gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta. Selain karena suasananya sangat cocok sebagai tempat nongkrong anak muda, kawasan ini juga dikenal sebagai penghasil kopi khas Yogyakarta, yakni Kopi Merapi.

Salah seorang pelaku usaha warung kopi di kawasan wisata Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sukasno, mengaku, sudah sekitar 2 tahun terakhir membuka usaha warung kopi miliknya. Ia mengaku, berkolaborasi dengan para petani kopi lokal dalam menjalankan usahanya. Warung kopi miliknya ini ia beri nama warung kopi Galia.

Salah seorang pelaku usaha warung kopi Galia di kawasan wisata Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sukasno, dijumpai, belum lama ini. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Di sini kita hanya fokus untuk menjual kopi Merapi. Kopi lokal yang dihasilkan para petani di sekitar kawasan lereng gunung Merapi. Selain untuk mengangkat kopi Merapi itu sendiri, juga sekaligus untuk menyerap hasil kopi para petani di sini,” katanya kepada Cendana News, belum lama ini.

Menyuguhkan dua jenis kopi yakni robusta dan arabika, Sukasno mengaku, mampu menjual puluhan gelas kopi setiap harinya. Saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung akan semakin meningkat, seiring semakin banyaknya wisatawan asal luar daerah yang menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta.

“Kita hanya menjual kopi untuk langsung diminum di sini. Kalau untuk kopi kiloan belum. Karena stok ketersediaan kopi dari petani masih terbatas. Bahkan bisa dikatakan masih kurang. Sehingga kita belum mampu memenuhi,” katanya.

Di kawasan Desa Kepuharjo sendiri, tercatat ada beberapa petani kopi yang rutin menghasilkan kopi setiap setahun sekali. Sekali panen, seorang petani kopi di kawasan lereng Gunung Merapi ini bisa mendapatkan 3 kuintal kopi.

Setelah diproses kopi hasil panen petani biasanya akan langsung disetor ke kedai-kedai kopi di kawasan lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, dan sekitarnya.

“Kolaborasi antara pelaku usaha warung kopi serta petani kopi di kawasan lereng Gunung Merapi ini diharapkan mampu mengangkat kopi Merapi. Sehingga kopi Merapi bisa semakin dikenal. Karena memang memiliki cita rasa kopi yang khas dan tidak ditemukan pada kopi lainnya. Selain itu juga mampu mengangkat potensi ekonomi di kawasan lereng Gunung Merapi, Sleman, ini,” pungkasnya.

Lihat juga...