Kota Bekasi Tidak Persoalkan Tingginya Konfirmasi Positif Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Wali Kota Bekasi, Jawa Barat, Rahmat Effendi tidak mempersoalkan tingginya angka terkonfirmasi positif Covid-19 di wilayahnya, meskipun saat ini sudah menembus di angka 10 ribu.

Dia menegaskan bahwa lebih fokus pada dua poin, meliputi tingginya angka kesembuhan dan rendahnya kematian akibat Covid-19.

“Sekarang harus begitu melihatnya, jangan pada tingginya terkonfirmasi. Karena konfirmasi itu terjadi, hasil kerja pelacakan di lapangan oleh Satgas dalam melakukan tracking,”ujar Rahmat Effendi, usai Paripurna di DPRD Kota Bekasi, Senin (30/11/2020).

Dikatakan, saat ini, patokannya untuk angka kematian akibat corona hanya 1,2 persen. Sementara angka kesembuhan mencapai 93 persen. Dengan data itu ia mengaku yakin bahwa Pemkot Bekasi mampu dalam mengendalikan penyebaran Covid-19 di Kota Patriot.

Melalui fasilitas yang ada tambahnya maka diyakini semua kegiatan akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Tapi tetap harus waspada dengan memperhatikan 3 M.

Kembali dia menegaskan bahwa tidak mempersoalkan tingginya angka terkonfirmasi di Kota Bekasi. Pepen beranggapan, ukuran yang harus dipahami adalah teknis dalam pengendaliannya bagaimana. Misalkan angka kematiannya itu rendah dan kesembuhan tinggi.

“Kalau kita sekarang berpikir takut orang terkonfirmasi, kita lupa mengendalikan supaya kematian rendah dan kesembuhan tinggi. Makanya saya lebih fokus pada dua itu,” tegasnya mengatakan jika hasil pelacakan tinggi disebut zona merah itu harusnya tidak jadi persoalan.

Dalam kesempatan itu dia juga menegaskan bahwa terkait Peraturan Daerah (Perda) tentang Covid-19 masih terus dimatangkan. Pertama terkait penerapan denda.

“Tadi saya sudah bicara dengan Ketua Dewan penyusunan, yang ada sekarang belum bisa jadi rujukan berkenaan dengan denda,”tandasnya.

Karena jelas dia, jika denda dikenakan tidak ada unsur dengan ketentuan lainnya dikhawatirkan menjadi piutang pemerintah daerah kedepannya.

“Misalkan orang kena denda karena tidak mematuhi protokol kesehatan, kemudian ia tidak mampu membayar denda sehingga eksekusinya pemaksaan, terus orang itu tidak mau bayar ini karena sudah terdaftar, nanti jadi pemerintah Kota yang menanggungnya, makanya nanti cari solusi lain,” tukasnya menegaskan masih terkendala soal penerapan denda.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati, mengajak semua pihak untuk bersama mengubah gaya hidup dengan berpatokan pada 3 M. Saat ini jelasnya tidak ada upaya lainnya yang harus dilakukan selain menjaga jarak dengan cara menghindari kerumunan.

Diakuinya bahwa peningkatan terkonfirmasi Covid-19 di Kota Bekasi sudah hampir menembus angka 10 ribu jika melihat dari jumlah penduduk 2,4 juta jiwa artinya rasionya memang masih kecil.

Namun demikian tegas Tanti, hal tersebut tentu bukan menjadi patokan terpenting adalah bagaimana bersama sadar untuk melakukan pencegahan. Karena angka tersebut jelasnya hasil dari tracking yang dilakukan oleh tim di berbagai lokasi.

Lihat juga...