Kota Semarang Perkuat Mitigasi Bencana Longsor dan Banjir Lewat EWS

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang memasang teknologi early warning system (EWS) di sungai rawan bencana dan daerah potensi longsor.

Kepala BPBD Kota Semarang, Rudianto saat dihubungi di Semarang, Rabu (25/11/2020). Foto Arixc Ardana

“Sejauh ini, sudah ada enam titik yang kita pasang EWS. Satu titik di Kelurahan Sukorejo Gunungpati, untuk memantau potensi tanah longsor, sementara lima titik lainnya untuk pengawasan potensi banjir, yakni di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk, Meteseh Tembalang, Wates dan Wonosari Ngaliyan, serta Mangkang Wetan di Kecamatan Tugu,” papar Kepala BPBD Kota Semarang, Rudianto saat dihubungi di Semarang, Rabu (25/11/2020).

Dari keenam titik tersebut, tiga di antaranya baru terpasang pada 2020, yakni di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin, yang meliputi wilayah Wates, Wonosari dan Mangkang Wetan.

“Tiga wilayah ini berpotensi sering terjadi banjir. Terlebih berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena La Nina akan mengakibatkan peningkatan curah hujan, yang juga disertai angin kencang dan petir, lebih tinggi sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” terangnya.

Secara terperinci dipaparkan, melalui teknologi EWS tersebut, dapat memberikan gambaran secara langsung terkait kondisi debit air di sungai. Data tersebut ditampilkan di layar komputer, yang tersambung jaringan internet sehingga bisa dipantau oleh petugas di posko siaga bencana BPBD Kota Semarang.

“Ketika debit air naik, masuk kategori awas banjir, EWS ini akan memberikan peringatan, sehingga petugas bisa memberitahukan kepada warga melalui Kelompok Siaga Bencana (KSB) agar mereka melakukan langkah-langkah antisipasi. Termasuk dalam melakukan evakuasi,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan, Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono. Dipaparkan, dengan adanya enam EWS sebagai alat peringatan apabila terjadi bencana, bisa mencegah terjadinya korban jiwa.

“Selain di DAS Beringin, EWS ini kita pasang di sungai Pengkol Meteseh Tembalang dan sungai Babon Karangroto,” paparnya.

Di satu sisi, dirinya juga mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi bencana angin puting beliung atau angin kencang. “Sejauh ini sudah ada sejumlah kasus angin kencang, yang merusak rumah warga dan fasilitas umum. Mulai dari wilayah Pedurungan, Rowosari, hingga Ngaliyan,” ungkapnya.

Ia menuturkan antisipasi angin puting beliung, masyarakat sudah harus mulai memotong dahan-dahan pohon yang telah rimbun. Selain itu menebang pohon yang telah rapuh.

Terpisah, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo menandaskan, EWS tersebut diperlukan untuk menguatkan mitigasi banjir dan tanah longsor.

“Pemasangan ini menjadi upaya preventif agar bencana bisa dihindari. Kami minta di samping kesiagaan secara fisik, harus ada sistem informasi yang lebih bagus dengan pemasangan EWS,” jelasnya.

Anang berharap, sungai-sungai lain yang berpotensi menimbulkan bencana dapat segera dipasang EWS, antara lain Banjir Kanal Timur (BKT), Banjir Kanal Barat (BKB), dan Kaligarang. Termasuk dilakukan pemantauan setiap polder, sebagai kolam retensi pencegah banjir, agar terus dijalankan.

Lihat juga...