Kuliner Tradisional Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Di tengah pandemi, kuliner tradisional ternyata masih tetap bertahan, karena selain memiliki kekhasan rasa, jajanan tradisional tersebut juga mempunyai pelanggan setia tersendiri. Salah satunya adalah usaha produksi wajik dan ketan yang tetap eksis.

Penjual wajik ketan di kawasan Pasar Wage Purwokerto, Sutarni mengatakan, meskipun tidak memproduksi dalam jumlah besar, namun dagangannya selalu habis. Ia menjual wajik dan ketan yang dikemas dalam potongan kecil dan dibungkus dengan daun pisang.

Penjual wajik dan ketan di Pasar Wage Purwokerto, Sutarni, dijumpai Selasa (17/11/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

Untuk satu potong wajik atau pun ketan dijual dengan harga Rp 2.500. Setiap hari, Sutarni menjual wajik dan ketan hingga 100 bungkus lebih. Terkadang ia juga menerima pesanan dari beberapa pelanggan untuk acara tertentu.

“Pelanggan masih tetap ada, bahkan terkadang juga banyak yang pesan untuk acara syukuran di rumah. Karena saya menjualnya tidak mahal-mahal, tetapi kualitas rasa tetap terjaga,” tutur ibu tiga anak ini, Selasa (17/11/2020).

Sutarni sudah puluhan tahun berjualan wajik dan ketan. Awalnya kemasan dalam bentuk besar dan dijual dengan harga Rp 12.000. Namun, melihat kegemaran anak-anak jajan dan sebagian besar jajanan yang dibeli adalah makanan cepat saji, Sutarni kemudian berinisiatif untuk menjual wajik dan ketan dalam kemasan kecil.

Ide tersebut ternyata membuka peluang pasar baru, yaitu anak-anak serta orang dewasa yang ingin menikmati jajanan tradisional secara langsung. Ukuran kemasan yang pas untuk camilan, membuat dagangannya semakin laris manis.

“Kalau kemasan besar, tidak bisa langsung dimakan, harus dibawa pulang dulu kemudian dipotong-potong. Sekarang saya sediakan kemasan kecil juga yang langsung bisa dimakan, jadi lebih praktis,” tuturnya.

Sutarni berkeyakinan, makanan tradisional seperti wajik dan ketan tidak kalah enak dengan jajanan cepat saji. Selain itu juga lebih lama membuat perut kenyang dan yang pasti sehat tanpa bahan pengawet. Terlebih jajanan tersebut sudah jarang dijumpai, hanya ada pada pasar tradisional saja.

Setiap harinya, Sutarni membuat 10 kilogram ketan dan 10 kilogram wajik. Untuk mengolah makanan tradisional ini cukup memakan waktu. Pertama beras ketan direndam terlebih dahulu selama kurang lebih 3 jam. Setelah itu, dicuci bersih dan baru dikukus. Sehingga untuk pembuatannya dimulai dari dini hari.

Salah satu pelanggan ketan dan wajik buatan Sutarni, Indah mengatakan, ia sangat menyukai jajanan tradisional karena tanpa bahan pengawet. Dan untuk ketan, jika tidak habis disantap, juga bisa digoreng, rasanya juga gurih dan nikmat.

“Ketan dan wajik itu, jajanan sejak saya kecil dan dijamin enak, karena yang membuatkan orang-orang zaman dulu yang biasa memasak menggunakan tungku,” tuturnya.

Lihat juga...