Kunjungan Kelas di Rumah Siswa, Cara Guru Optimalkan Pembelajaran

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Menggunakan media pembelajaran berupa pot kecil berisi tanaman, Eni Handayani, mengajak siswa untuk mengenal bagian-bagian dari tanaman. Mulai dari akar, batang, hingga daun.

Apa yang disampaikan dan ditunjukkan tersebut, kemudian ditulis oleh siswa. Meski demikian, hal tersebut bukan perkara yang mudah. Berkali-kali guru TK Hassanah Sirojudin Tembalang Kota Semarang tersebut, harus mengulangi kembali materi yang disampaikannya.

“Ayo mas Axcel, coba lihat tanamannya. Ini yang paling bawah namanya apa? Akar. Kemudian ini, batang dan daun. Coba sekarang ditulis, bagaimana cara menulis akar, batang dan daun?” paparnya kepada Axcel, salah satu murid, yang mendapat kegiatan Kunjungan Kelas di rumah siswa, Kamis (5/11/2020).

Apa yang dilakukannya tersebut, menjadi bagian dari upaya agar materi pembelajaran yang disampaikan kepada siswa bisa benar-benar dipahami.

Sejauh ini, pihaknya sudah menerapkan konsep Belajar Dari Rumah (BDR) yang disampaikan secara online sebagai solusi agar siswa tetap bisa mendapatkan pembelajaran, di tengah pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. Namun, konsep tersebut bukan berarti tanpa kendala.

“Agar BDR ini berhasil, perlu peran serta orang tua untuk mendampingi, apalagi siswa masih jenjang TK. Namun sejauh ini belum semua orang tua dapat melakukan pendampingan. Misalnya karena kedua orang tua bekerja, sementara anak dititipkan ke kakek nenek, saudara atau penitipan, sehingga pembelajaran yang disampaikan tidak bisa optimal,” terangnya.

Untuk mengejar ketertinggalan materi tersebut, pihaknya melakukan kunjungan kelas ke rumah siswa. Tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan, sebagai upaya dalam pencegahan Covid-19.

“Kunjungan ini penting, untuk memantau sejauh mana perkembangan materi yang sudah diserap oleh siswa. Terlebih untuk jenjang TK ini, materi tidak bisa disampaikan secara apa adanya. Jadi bermain sembari belajar. Termasuk menggunakan media pembelajaran untuk memudahkan pemahaman siswa,” jelasnya.

Sementara, orang tua siswa, Widiyanti, mengaku, keterbatasan waktu dalam melakukan pendampingan saat BDR, menjadi kendala sehingga pembelajaran yang diterima anak tidak bisa maksimal.

“Jujur saja, karena orang tua harus bekerja, juga ada kegiatan lain, sehingga tidak bisa optimal dalam melakukan pendampingan. Kini dengan adanya kunjungan kelas ini, kita sebagai orang tua, tentu mendukung, sebagai upaya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak dalam memahami pembelajaran. Termasuk sejauh apa perkembangannya,” pungkas Widi.

Lihat juga...