Lestarikan Alam, Kelompok Poma Laut Intens Tanam Bakau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kelompok Tani Poma Laut di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini peduli kelestarian alam dengan selalu menaman bakau di pesisir pantai.

Penanaman bakau dilakukan mengingat kelompok ini semua warganya bermukim di pesisir pantai yang berbatasan dengan hutan bakau sehingga bisa mencegah wilayah mereka dari abrasi.

“Kami selalu menanam bakau bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka,” sebut Aleksius Sera, Ketua kelompok Tani Poma Laut, Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui Cendana News di sekitar hutan bakau dekat rumahnya, Rabu (18/11/2020).

Ketua Kelompok Tani Poma Laut, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, Aleksius Sera, saat ditemui di sekitar hutan bakau, Rabu (18/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Aleksius menyebutkan, awalnya kelompok ini terbentuk tahun 1990-an yang beranggotakan warga di pesisir pantai yang berasal dari wilayah Desa Poma, Kecamatan Mego di wilayah pegunungan.

Ia mengatakan, setelah mereka menetap di pesisir pantai ada program penanaman bakau dan pembentukan kelompok tani sehingga mereka mulai dibina oleh DLH Sikka untuk menanam bakau.

“Awalnya kami tanam tahun 1990-an dan saat tsunami tahun 1992 daerah kami tidak mengalami kerusakan parah karena ada hutan bakau. Wilayah kami pun tidak mengalami abrasi,” ungkapnya.

Aleksius mengatakan, selama dua minggu terakhir kelompoknya bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Sikka melakukan penanaman 15 ribu bakau.

Dia menjelaskan, penanaman dilakukan dengan menggunakan buah bakau (propagul) yang dipilih dari bakau rhizophora mucronata yang banyak sekali tumbuh di pesisir pantai, dekat tempat tinggal mereka.

“Buah bakau yang jatuh ke tanah kami pilih dan kumpulkan, lalu dibenamkan di lumpur selama 2 minggu. Saat mau penanaman, baru kami ambil dan lakukan penanaman dengan mengikatnya di kayu bambu sebagai penahan,” ujarnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung, menyebutkan, untuk hutan mangrove di Kelurahan Kota Uneng ada banyak lembaga melakukan penanaman bakau.

Win sapaannya mengakui, hutan mangrove dulu mencapai ratusan meter, namun banyak berkurang karena adanya penebangan oleh warga untuk membangun rumah dan gedung serta tambak ikan.

“Banyak bakau yang ditebang sehingga saat air laut pasang maka air laut akan naik dan masuk ke pemukiman warga yang berada di pesisir pantai. Harusnya pemerintah tegas menindak pelaku penebangan bakau,” ujarnya.

Win mengatakan, seharusnya daerah hutan mangrove tidak dijadikan pemukiman, dan wilayah sepadan pantai harus bebas dari aktivitas pembangunan rumah serta gedung. Sebab bakau berfungsi menahan abrasi.

Lihat juga...