Limbah Budi Daya Udang Rentan jadi Polusi Udara

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Aroma busuk menyeruak di sekitar lokasi pengepulan udang yang ada di Desa Berundung, Desa Pematang Pasir di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Kondisi serupa terjadi pada Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi. Aroma tak sedap kerap ditimbulkan dari limbah air buangan, kulit atau cangkang proses pengelupasan (molting) udang.

Mulyono, salah satu pembudi daya udang vaname skala rumah tangga menyebut, aroma khas busuk udang kerap jadi hal biasa. Namun bagi warga sebagian menjadi sumber polusi udara dan sebagian air limbah udang jadi mengundang lalat. Sebagian limbah kerap dibuang oleh pengepul tanpa sengaja imbas keterbatasan lokasi pembuangan.

Mulyono, salah satu petambak udang skala rumah tangga di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan melakukan proses pembersihan kotoran pakan atau penyiponan, Rabu (4/11/2020) – Foto: Henk Widi

Namun kesadaran membuang limbah dengan sistem pembuatan instalasi pembuangan air limbah (IPAL) dilakukan pelaku usaha. Pembuatan bak penampungan dengan instalasi saringan pada septic tank meminimalisir limbah dibuang pada area terbuka. Sebagian pengepul telah memiliki IPAL pada area produksi meminimalisir limbah.

“Aroma udang busuk kerap masih tercium namun mulai berkurang karena sebagian proses sortir kerap menyisakan udang mati yang busuk dalam proses pemanenan, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pengepulan udang juga kerap protes sehingga pengusaha membuat IPAL yang layak,” terang Mulyono saat ditemui Cendana News, Rabu (4/11/2020).

Selain instalasi IPAL pada lokasi pengepulan, setiap petambak sebutnya mulai memiliki area untuk pembuangan limbah. Budi daya udang vaname pada tambak tradisional, intensif kerap menghasilkan residu limbah. Residu limbah dihasilkan oleh akumulasi pakan yang mengendap. Endapan pakan menjadi lumpur menimbulkan aroma tak sedap meski telah dilakukan pembersihan.

Proses pembersihan dengan alat dan manual kerap menghasilkan lumpur bercampur udang busuk. Petambak telah memiliki kesepakatan untuk mengendapkan lumpur pada petak yang ada di area tambak. Membuang limbah proses penyiponan bisa berimbas fatal. Sebab selain membuang limbah, potensi penyakit myo, bintik putih bisa menyebar melalui air.

“Larangan keras membuang limbah jadi aturan bersama petambak sebab untuk budidaya udang berkelanjutan,” bebernya.

Limbah penyiponan berupa lumpur kerap dikeringkan pada tanggul tambak. Volume lumpur bisa ditolerir dimanfaatkan untuk menambah kesuburan tanah. Mempergunakan bahan dolomit dan bahan lain pengurangan aroma busuk bisa dikurangi. Selain pengurangan aroma busuk petambak bisa menjaga kualitas air pada saluran irigasi pemasukan (inlet) dan pengeluaran (outlet).

Petambak lain bernama Susilo di desa yang sama mengaku, limbah pasca panen udang kerap jadi kendala. Namun sistem pengaturan irigasi dan proses panen memperhatikan aspek lingkungan jadi solusi menjaga keberlangsungan tambak. Saat panen udang yang dilakukan secara bertahap air yang dibuang pada saluran pembuangan harus bebas dari polusi.

“Setiap petambak tidak diperkenankan membuang air tambak pada saat pembudidaya lain sedang melakukan pengisian air,” bebernya.

Hasil panen udang jenis vaname dan windu yang dijual kerap menimbulkan limbah cangkang berpotensi menimbulkan pencemaran berupa aroma busuk, Rabu (4/11/2020) – Foto: Henk Widi

Pengaturan panen dan penyiponan memanfaatkan pasang surut laut sangat penting. Saat air laut surut dengan saluran air mengalir ke laut menjadi waktu tepat membuang air tambak. Sebaliknya saat air laut pasang masuk ke saluran irigasi menjadi peluang pengisian tambak. Langkah itu sekaligus meminimalisir limbah dibuang ke saluran air, berimbas sedimentasi fasilitas irigasi.

Pengelolaan limbah hasil panen udang telah diterapkan pelaku usaha. Karyanto, pemilik CV Samudera Mina di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang mengaku, menyiapkan septic tank berkapasitas ribuan kubik. Air proses pembersihan kerap menimbulkan aroma busuk. Solusinya dibuat IPAL khusus sehingga air dan kulit udang dipisahkan.

“Kulit udang yang telah dibersihkan atau yang busuk kerap bisa dipakai sebagai pakan ikan jadi tidak dibuang,” bebernya.

Air proses pembersihan udang yang diresapkan pada instalasi IPAL akan menghasilkan air yang layak dibuang ke sungai. Proses pengendapan sebutnya dilakukan untuk mengurangi air terbuang yang memiliki aroma tak sedap.

Sistem yang diterapkan sejak beberapa tahun silam membuat polusi udara dan air bisa dihindari. Pemanfaatan limbah dengan benar sekaligus mendorong sistem budi daya udang ramah lingkungan.

Lihat juga...