Mahasiswa Indonesia di Tiongkok Diharap Jadi Agen Ganda

FUZHOU – Peran santri sangat diharapkan dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia dengan Cina.

“Santri dan mahasiswa Indonesia di Tiongkok secara umum diharapkan menjadi ‘agen ganda’,” kata staf pengajar Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Ardhitya E Yeremia, dalam webinar Hari Santri dan 70 Tahun Hubungan Bilteral Indonesia-Cina.

Lebih lanjut, dia menjelaskan maksud dari “agen ganda”, yaitu santri tidak hanya menceritakan tentang Cina kepada masyarakat Indonesia, melainkan juga soal kondisi nyata Indonesia kepada masyarakat Cina.

Xue Song, pengamat hubungan Cina dengan negara-negara tetangga dari Fudan University, Shanghai, dalam seminar virtual yang digelar oleh Ikatan Alumni Tiongkok-Nurul Jadid (IKAT-NJ), itu mengingatkan sikap saling pengertian merupakan fondasi hubungan bilateral Indonesia-Cina.

“Hal ini penting, karena mispersepsi masih sering terjadi dalam hubungan kedua negara ini,” ujarnya.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Yaya Sutarya, dalam kesempatan itu menyinggung tentang peluang dan tantangan hubungan kedua negara, terutama dari sisi kerja sama pendidikan.

“Mahasiswa Indonesia di Tiongkok lebih dari 14.000, tapi mahasiswa Tiongkok di Indonesia masih di sekitar angka ratusan. Bagaimana menarik lebih banyak lagi pelajar Tiongkok untuk belajar ke Indonesia, menjadi tantangan kita bersama ke depannya,” ujarnya.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH Abdul Hamid Wahid, berharap webinar yang diikuti 1.885 peserta tersebut bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat kedua negara.

“Webinar ini juga menjadi bukti adanya peran santri dalam menjalin hubungan baik Indonesia-Tiongkok,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan pengurus IKAT-NJ kepada ANTARA di Fuzhou, Provinsi Fujian, Senin.

Nurul Jadid, salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur, itu aktif mengirimkan lulusannya melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Cina.

Bahkan, pondok pesantren yang berlokasi di jalur pantura Pulau Jawa itu juga sering mengirimkan para siswa dan santrinya mengikuti berbagai ajang perlombaan bahasa Mandarin di Cina. (Ant)

Lihat juga...