Maksimalkan Musim Penghujan Petani Lamsel Percepat Masa Tanam

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Memasuki musim penghujan atau rendengan petani di Lampung Selatan mulai melakukan masa tanam. Persiapan bahkan sudah dilakukan sejak pertengahan November, yakni penyiapan bibit dan pengolahan lahan.

Percepatan masa tanam tersebut dilakukan oleh Mulyadi, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Pengolahan lahan dengan traktor dilakukan untuk memaksimalkan pasokan air yang ada.

“Percepatan masa tanam kami lakukan memaksimalkan pasokan air dan penyediaan benih dilakukan dengan sistem penyemaian di luar lahan sawah, lebih praktis, membutuhkan waktu selama tiga pekan sembari menunggu penyelesaian pengolahan lahan,” terang Mulyadi saat ditemui Cendana News, Senin (30/11/2020).

Varietas padi Ciherang batang tinggi dipilih Mulyadi dan petani di wilayah tersebut menyesuaikan musim rendengan. Sebab saat musim penghujan dibutuhkan varietas padi yang tahan genangan.

Selain Ciherang sebagian petani memilih melakukan penanaman varietas Muncul. Potensi banjir dan hujan yang akan melimpah pada Desember membuat petani memilih petani batang tinggi.

Proses penanaman bibit sebut Mulyadi akan dilakukan saat memasuki usia tiga pekan. Ketinggian bibit mencapai 30 cm akan tepat dilakukan memakai sistem penanaman manual, memakai tenaga buruh tanam (tandur).

“Saat ini sistem upahan saat penanaman padi dominan dilakukan karena saat panen telah menerapkan penggunaan mesin combine harvester dan mesin dos,” beber Mulyadi.

Pasokan air yang lancar dari Gunung Rajabasa ungkap Mulyadi membuat petani bisa melakukan penanaman serentak. Penanaman serentak dilakukan mencegah munculnya hama saat penghujan. Penanaman yang tidak berbarengan berpotensi diserang hama burung, tikus, walang sangit.

Pemanenan oleh petani di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, Senin (30/11/2020) akan dilanjutkan dengan pengolahan lahan memanfaatkan musim hujan dengan pasokan air melimpah. Foto: Henk Widi

Sutrisno, petani di desa yang sama menyebut memanfaatkan saluran irigasi alami dan semen untuk proses penanaman padi yang diperbaiki secara gotong royong yang bertujuan untuk membagi air merata.

Selain saluran irigasi dari sungai Way Muloh sebagian petani memanfaatkan bendungan sungai Way Asahan. Saat masa tanam rendengan petani memanfaatkan pasokan air mulai pengolahan lahan hingga proses pemupukan. 

“Hamparan lahan pertanian di wilayah Penengahan dominan berundak sehingga di bagian bawah akan kebagian air setelah bagian atas sawah telah diolah,” cetusnya.

Memasuki masa tanam rendengan sebagian petani yang masih memasuki masa panen melakukan percepatan panen. Suharti, petani di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang menyebut panen dilakukan secara manual.

Musim rendengan dengan pasokan air melimpah sebut Suharti dimanfaatkan maksimal. Sebagian petani sebutnya memilih membeli bibit dari para persemaian yang dilakukan di daratan. Setiap ikat benih padi siap tanam usia 25 hari kerap dibeli seharga Rp20.000 per ikat.

Ia membutuhkan sekitar 20 ikat benih yang siap tanam usai proses pengolahan lahan. Sebab pemakaian traktor mempercepat pengolahan lahan dan benih siap tanam diperoleh dengan cara membeli.

Lihat juga...