Manis Legit Aneka Kue Tradisional Indramayu

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Dengan membawa dua keranjang plastik berkeliling di wilayah kelurahan Cijantung, Jakarta Timur, Sureni (36) menawarkan aneka ragam kue khas Indramayu, Jawa Barat. Diantaranya, candil, tiwul, klepon, awug, ketan hitam, dan getuk. 

Saban hari, dia berjalan kaki memasuki gang-gang kecil untuk menawarkan aneka kue yang dibawanya dalam keranjang kepada setiap orang yang ditemuinya.

Kue yang dijajakan Sureni berbahan dasar singkong, seperti halnya candil dan getuk.Terlebih dulu singkong dikupas, lalu dibersihkan dan kemudian diparut untuk diolah menjadi candil dan gethuk.

Sureni sedang melayani pembeli kue khas Indramayu, saat ditemui di Gang Krida Mandala, Kelurahan Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (14/11/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Sedangkan awug dan tiwul terbuat dari bahan tepung singkong yang diadon bercampur air hangat. Setelah diadon merata, lalu dikukus.

Ada pun ketan hitam terbuat dari bahan dasar beras ketan hitam yang terlebih dulu diaron. Kemudian dikukus di di dandang hingga matang.

Semua aneka kue khas Indramayu itu disajikan dengan campuran tamburan gula putih dan parutan kelapa muda di atasnya. Sehingga saat disantap menambah kelezatan bagi pembelinya.

“Saya jualan aneka kue khas Indramayu ini sejak 1992. Alhamdulillah, dagangan saya ini tetap laris sampai saat ini, selalu habis,” ujar Reni, emikian panggilannya kepada Cendana News, ditemui di Gang Krida Mandala, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (14/11/2020).

Reni berkisah, awalnya belajar membuat kue khas Indramayu ini dari kakaknya yang terlebih dulu sudah jualan di Jakarta dengan berkeliling di wilayah Cijantung.

“Saya belajar bikin kue ini dari kakak saya. Awal jualan tahun 1992, saya keliling di Kampung Dukuh, Jakarta Timur. Tahun 1996, baru saya keliling di Cijantung ngantiin kakak yang berhenti jualan,” ungkapnya.

Semua kuenya itu, dia membuatnya sendiri dengan membeli bahan dasarnya di pasar Rebo, seperti singkong, tepung singkong, beras ketan hitam, gula putih dan kelapa.

“Awal jualan modalnya cuma Rp40 ribu, itu sudah kebeli semua bahannya. Dan, untungnya sekali jualan dapat Rp75 ribu- itu sudah bersih. Gede itu, untungnya,” ujar wanita kelahiran Indramayu 36 tahun ini.

Pada 1996, saat dia berjualan keliling di wilayah Cijantung, porsi aneka kue yang dijajakannya diperbanyak. Modalnya pun menjadi bertambah di kisaran Rp150 ribu untuk sekali jualan. Dengan keuntungan yang diraup lumayan gede.

Bahkan, diakuinya banyak pelanggan yang memesan kue itu untuk sajian acara keluarga. “Alhamdulillah, pelanggan suka pesan kue buatan saya,” ujarnya.

Reni selalu bersyukur karena dagangan setiap hari selalu habis. Seporsi kuenya campuran candil, awug, gethuk, tiwul, klepon dan ketan hitam dibandrol seharga Rp5.000.Namun jika ada yang membeli Rp2.000 atau Rp3.000, juga dilayaninya.

Dia mengaku berjualan berjalan kaki menjajakan dagangannya sejak pukul 08.00 WIB, hingga tiba di rumahnya di daerah Bambu Apus pada pukul 12.00 WIB.

Dari rumahnya, dia berangkat pukul 07.30 WIB dengan naik angkutan umum, dan turun di jembatan Sudirman. Kemudian, dia melanjutkan dengan berjalanan kaki keliling mulai dari Jalan Pendidikan II, kompleks Zeni, Jalan Selayar, Jalan Salembo, Lebak Empang, dan Lebak Para.

“Area yang saya masuki itu gang-gang kecil yang padat penduduk. Alhamdulillah, dagangan saya laris, pukul 12.00 WIB saya sudah di rumah, bisa istirahat untuk bersiap malam harinya ngadonin kue yang akan dijual besok paginya,” imbuh ibu dua anak ini.

Khusus hari Sabtu-Minggu, diakuinya berjualan di Taman Graha Cijantung, dengan berangkat dari rumahnya pukul 06.00 WIB. Baru kemudian keliling berjalan kaki mengitari wilayah yang biasa dikunjunginya.

“Kalau dagangan saya di taman habis, ya nggak keliling. Jadi, bisa pulang cepat jam 09.00 sudah dirumah. Alhamdulillah, bisa ngantongin Rp300 ribuan lebih. Kalau jualan keliling saban hari juga sama itu dapatnya,” ungkap Reni.

Namun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, diakuinya pendapatan menurun sekitar 30 persen. Jualan di Taman Graha Cijantung pun tidak lagi, hanya dengan berkeliling masuk gang ke gang saja.

“Covid-19 berpengaruh, ya turun 30 persen. Tapi ya, alhamdulillah masih dapat Rp200 ribu. Dagangan juga saya kurangi,” tukasnya.

Meskipun pendapatannya turun, Reni selalu bersyukur karena selama berdagang kue khas Indramayu, ia bisa membantu suaminya untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Reni juga bisa menyisihkan untuk menabung, hingga bisa kebeli tanah di kampungnya Indramayu, dan membangun rumah.

“Saya bersyukur, coba dihitung kalau sehari dapat untung Rp300 ribu dikali sebulan sudah berapa? Jadi, kalau sekarang pendapatan turun, ya disyukurin saja. Alhamdulillah, saya bisa bantu suami, biayai sekolah anak, beli tanah dan bangun rumah di kampung,” ungkap nenek satu cucu ini.

Sementara di Bambu Apus, dia bersama suaminya yang berprofesi pedagang mainan anak,  mengontrak rumah petakan sebulan Rp300 ribu.

Reni berharap, pandemi cepat berakhir, sehingga ia dapat berjualan di Taman Graha Cijantung lagi. “Mudah-mudahan, Covid-19 ini cepat pergi, jadi semua pedagang bisa berjualan lebih leluasa lagi,” ujarnya.

Wartini, pelanggan kue yang dijajakan Reni, mengaku selalu membeli kudapan tersebut, karena rasanya legit dan mengenyangkan.

“Candil dan tiwulnya itu legit banget, enak disantap sambil minum teh hangat,” ujar Wartini, kepada Cendana News.

Dia menyebut, kalau Reni ini sudah berjuan keliling Lebak Para sebelum cucu pertamanya lahir pada 1998.

“Cucu saya masih dalam perut ibunya saja, Mbak Reni ini sudah jualan, jalan kaki keliling. Dia jadi langganan keluarga saya, dagangan enak kualitasnya dijaga,” tutup nenek 6 cucu ini.

Lihat juga...